Terbius Film Sore: Istri dari Masa Depan

Saya jarang sekali menulis panjang untuk mengekspresikan pemaknaan saya terhadap sebuah karya seni, karena apresiasi seni menurut saya begitu personal, bisa berbeda pemaknaan antarorang. Namun, rubrik Galeri di blog saya ini dari awal belum pernah terisi apapun. Maka, saya putuskan untuk mengubahnya menjadi rubrik Resensi. Harapannya, setelah saya menikmati sebuah karya, akan saya tuliskan apa yang saya maknai dan saya rasakan. Sebagai catatan, saya nyatakan, saya bukanlah pengulas yang andal. Jadi tulisan saya yang pasti akan asal-asalan saja. Kumaha aing.

Untuk yang pertama, mari menuliskan apa yang tidak berhenti melintas di pikiran saya setelah menonton film terbaru Yandy Laurens.

Sejak pertama menonton film Jatuh Cinta Seperti di Film-film, saya berikrar dalam hati akan menonton film apapun yang disutradarai Yandy Laurens. Setelah 1 Kakak 7 Ponakan, kemarin saya menonton Sore: Istri Dari Masa Depan. Delapan tahun yang lalu pernah dibuat webseries-nya. Tulisan saya berikutnya akan mendeskripsikan beberapa hal yang mungkin bisa membuyarkan rasa penasaran bagi yang belum menonton, meskipun sudah menonton webseries-nya.

Ini adalah film dengan alur nonlinear, sehingga tidak bisa kita definisikan mana yang lebih awal terjadi dan mana yang lebih akhir terjadi. Alur yang disajikan juga berlapis-lapis seolah ada banyak realitas alternatif yang diceritakan pada film ini.

Pembagian tiga sudut pandang: Jonathan, Sore, dan Waktu pada film ini mengingatkan saya pada film Dunkirk. Ketiga sudut pandang tersebut menjelaskan realitas yang dialami Jo, Sore, dan Sang Waktu.

Film ini menceritakan Sore yang merasa sangat terpukul karena ditinggal mati suaminya, Jonathan, yang terkena sakit jantung di usia pernikahan mereka yang belum lama. Setelah menapaktilas perjalanan suaminya ketika di Eropa, Sore pergi ke masa lalu suaminya untuk mengubah gaya hidupnya yang membuat kesehatannya memburuk. Ternyata sulit baginya untuk membuat Jo berubah. Saat Sore merasa frustrasi, dia membocorkan kepada Jo rahasia di masa depan. Akibatnya, Sore meninggal pada realitas itu dan harus mengulangi linimasa dari awal. Keras kepalanya Jo membuat Sore harus mengulangi linimasa dan realitas baru, karena Sore ingin menanamkan ide kepada Jo agar kesehatannya di masa depan lebih baik, sehingga mereka bisa hidup bersama lebih lama.

Sore akhirnya tersadarkan bahwa ada tiga hal yang tidak bisa diubah, yaitu kematian, sakit hati, dan masa lalu. Seberapa keras upaya Sore untuk mengubah Jo, kematian Jo akan tetap terjadi karena sudah menjadi ketetapan yang mutlak. Sore tidak bisa mengubah Jo, kecuali Jo sendiri yang memiliki tekad untuk berubah, dari dalam diri sendiri.

Membahas mengenai penanaman ide pada seseorang, saya teringat film Inception. Orang bisa berubah jika diberikan sugesti pada alam bawah sadarnya. Itu yang membuat Jo akhirnya memaafkan ayahnya, yang ternyata menjadi penyebab bagaimana selama ini Jo memandang kehidupan. Dalam film sore juga terdapat kutipan,

“Yang mengubah seseorang itu bukan rasa takut, tapi merasa dicintai.”

Momen yang paling membuat saya merinding adalah saat air mata Sore jatuh kutub utara. Saat itu juga mata saya berkaca-kaca. Ingin rasanya bertepuk tangan dan mengatakan “Gila keren banget!”

Menurut keyakinan saya, momen Sore menitikan air mata itu bersamaan dengan saat Jonathan berada di sana dan melihat ada tetes air yang jatuh di bawahnya. Sekali lagi, mau menggunakan istilah time travel atau apapun, film ini tidak bisa dibaca dengan linear, seperti halnya waktu, yang relatif. Saya teringat salah satu dialog dalam film tersebut, kutub utara adalah wilayah di mana hukum waktu tidak berlaku. Ini seperti halnya tesseract dalam film Interstellar, saat Cooper memasuki gargantua dan berkomunikasi dengan anaknya, Murph, yang berada di kamarnya. Mengapa semua hal tersebut bisa terjadi? Karena cinta adalah satu-satunya hal yang bisa menembus ruang dan waktu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *