Pidato Pertama

Saat itu di musala kampung kami akan diadakan acara keagamaan untuk memperingati Isra Mikraj. Beberapa anak muda dikumpulkan untuk mengisi acara. Ada yang melantunkan selawat, membaca ayat Al-Qur’an, melantunkan sifat-sifat wajib bagi Allah, dan asmaul husna. Saya dipercaya untuk menyampaikan ceramah singkat. Naskah ceramah itu dibuatkan oleh guru ngaji kami, jadi saya cukup menghapalnya saja. Untuk anak kelas 4 SD saat itu, menghapal naskah sebanyak tiga halaman buku Sinar Dunia tidaklah sulit.

Sekitar sepuluh anak dilatih oleh guru ngaji kami di musala setiap hari selepas salat asar. Saya selalu antusias mengikuti pelatihan tersebut. Seminggu menjelang acara, saya sudah menguasai naskah dan telah dinyatakan siap untuk tampil oleh guru kami. Saya sangat percaya diri dan tidak sabar untuk tampil saat itu.

Tibalah hari acara. Di malam itu, warga dari tiga RT berkumpul di depan musala yang sengaja dibuatkan tenda khusus untuk menyambut acara tersebut. Mereka akan menyaksikan tausiyah dari seorang pemuka agama yang terkenal dan kreasi dari anak-anak setempat sebagai pembuka.

Singkatnya, semua peserta telah tampil, tinggal saya yang menunggu giliran di belakang panggung. Suasana begitu khidmat. Pembawa acara memanggil nama saya.

Dengan perasaan gerogi, saya menerima estafet mikrofon dari pembawa acara. Begitu banyak orang yang melihat ke arah saya. Saya pastikan mikrofon sudah menyala.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sambut saya.

Saya merasa kaget karena kekuatan pengeras suara begitu besar. Saya merasa terpecah, diri saya seperti menjadi dua. Perasaan yang begitu aneh kala itu. Saya belum pernah mengalaminya. Suasana begitu berbeda dibanding saat latihan. Dua paragraf pidato pembuka saya sampaikan dengan lancar, sampai saat saya menyampaikan paragraf selanjutnya yang merupakan inti dari pidato tersebut, tiba-tiba semuanya hilang dari ingatan saya.

Saya berhenti sejenak. Belum pernah saya tidak lancar seperti ini dalam latihan. Begitu ada satu frasa yang melintas di pikiran, saya langsung sampaikan, daripada bergeming di hadapan warga kampung sebanyak itu dan merasa malu karena lupa hapalan. Sejak momen itu, semuanya berjalan lancar sampai dengan paragraf penutup.

Setelah turun panggung, saya menyesali kejadian itu. Ternyata hanya satu dari tiga paragraf inti yang saya sampaikan. Hasil dari latihan berminggu-minggu seolah sia-sia. Penampil lain juga ternyata tidak menampilkan performa terbaiknya. Saya ingat saat itu guru kami sedikit kecewa.

Kejadian tersebut mungkin adalah pengalaman pidato pertama saya. Tidak semua yang pertama berjalan istimewa, tetapi cukup berarti untuk dijadikan pelajaran. Saat ini, 22 tahun sejak peristiwa tidak mengesankan, saya masih cukup mengingatnya. Ternyata lucu untuk diceritakan.

(Ditulis di malam ke-22 bulan ramadan dengan perasaan lega karena besok libur)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *