Memilih Meja Saat Makan Bakso

Bakso tiba-tiba masuk di pikiran saya saat memikirkan akan makan apa malam ini. Kondisi hidung tersumbat karena flu memang cocok dengan makanan berkuah dengan bumbu pedas yang menghangatkan kerongkongan.

Mutlak, akhirnya saya putuskan untuk mampir ke kedai bakso di perjalanan menuju pulang ke kosan. Kedai bakso ini cukup memiliki banyak centang hijau karena tempatnya bersih, di setiap meja terdapat bumbu kuah, alat makan, tisu, menu, kerupuk serta tusuk gigi, dan yang paling penting bisa dibayar menggunakan metode QRIS.

Saya masih menggunakan baju bulutangkis yang masih penuh dengan keringat saat saya memarkirkan motor di depan kedai bakso tersebut. Raket sengaja saya simpan di motor supaya tidak terlalu banyak barang yang saya bawa ke dalam kedai.

Di kedai itu terdapat 11 meja yang terbagi ke dalam 2 baris yang memanjang dari depan ke belakang, 5 meja di baris kiri, 6 meja di baris kanan. Di baris kiri, meja kedua dari depan, ada suami istri dengan anak kecilnya. Di baris kanan, meja ketiga dari depan, ada laki-laki dan perempuan yang saya asumsikan sedang pacaran. Berarti, dari 11 meja, ada 2 meja yang terisi. Semuanya menghadap ke arah depan kedai. Jelas, saya lebih memilih baris kiri, bergabung dengan barisan suami istri dengan anak kecilnya. Saya memilih meja keempat, mepet ke tembok bagian belakang kedai, selisih satu meja dari keluarga itu.

Setelah duduk sejenak, hidung saya mulai merasa tidak nyaman. Ternyata lelaki di depan saya sedang merokok. Dia cukup sopan terhadap anaknya, karena saat tidak dihisap, rokoknya dia pegang di belakang anaknya, sehingga anaknya tidak menghirup asap rokok bapaknya. Asap rokok justru mengarah ke belakangnya, di mana ada saya sedang duduk menunggu bakso dan teh tawar hangat. Asap tersebut tentu tidak nikmat dihirup untuk orang yang baru selesai berolahraga dan sedang merasakan flu.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya saya memutuskan untuk berpindah meja. Saya mengungsi ke barisan kanan meja pertama. Dua meja di depan pasangan muda-mudi. Posisi saya tepat seperti kondektur bus antarprovinsi. Keputusan tersebut tepat bagi saya, karena bisa terhindar dari kerugian menghisap asap rokok. Namun, saya menghadapi konflik batin lain. Pasangan muda-mudi itu pasti membaca tulisan yang ada di belakang baju saya. Manusia pasti menginterpretasi jika melihat sebuah objek, apalagi tulisan. Sepanjang saya duduk di meja tersebut, saya membayangkan interpretasi apa yang mereka dapatkan setelah membaca tulisan di punggung saya. Walaupun terkadang saya juga harus berlaku bodo amat, tapi saya adalah individu yang suka memikirkan apa yang orang pikirkan terhadap kita.

Tidak lama setelah saya berpindah, keluarga tadi menyelesaikan pembayarannya ke kasir dan pulang. Saya berujar dalam hati, kalau saja saya tadi sedikit sabar, saya tidak akan berada di meja paling depan ini. Lagipula, saat tadi saya baru duduk, sebetulnya saya melihat keluarga itu sudah menghabiskan baksonya.

Dari kejadian ini saya sinau, sehari-hari kita pasti dihadapkan pada kondisi saat kita harus membuat keputusan, menentukan pilihan dengan pertimbangan serta memikirkan konsekuensi atas pilihan kita. Kita juga tidak akan pernah tahu, keputusan yang akan kita ambil itu apakah terlalu cepat atau terlalu lambat. Kita bisa menghakimi keputusan kita, setelah hasil dari keputusan itu diketahui. Menurut saya, semakin banyak masalah yang kita hadapi, semakin banyak keputusan yang telah kita ambil, akan semakin mematangkan pemikiran kita saat dihadapkan dengan pilihan-pilihan lain yang ada di depan kita.

Kadang-kadang kita lebih sering menyesali keputusan yang salah, daripada mensyukuri keputusan yang tepat.

Itulah mengapa dalam hal kecil sekalipun, saya selalu mencoba mengevaluasi keputusan saya, sehingga saya bisa belajar, termasuk saat memilih meja saat makan bakso.

One Comment

  1. Andri Valerian

    Super Om

Leave a Reply to Andri Valerian Cancel

Your email address will not be published. Required fields are marked *