Oleh-oleh

Siang itu gue baru beres menyelesaikan urusan sama dosen terkait perkuliahan di kampus. Gue waktu itu dipercaya jadi tumbal KM di kelas, jadi memang sering bolak-balik ke Ruang Prodi. Selepas melewati pintu keluar, gue melihat Anjas sedang duduk sama temen-temennya. Gue tahu Anjas baru pulang dari luar pulau untuk sebuah hal yang dibayarin. Otak sok akrab gue menginstruksikan bibir buat menyapa Anjas.

“Njas, udah pulang nih? Mana oleh-olehnya?” tanya gue sambil nepuk dengkulnya yang kopong.

“Oleh-oleh apa?” tanya Anjas sebelum dia mengeluarkan dalil.

Gue jengkel banget dikasih dalil, seolah gue melakukan dosa besar. Dia bilang tidak boleh membiasakan meminta oleh-oleh kepada teman. Ada hadisnya, gue tahu. Tapi ini yang membuat gue enggak lupa sama apa yang sudah terjadi sekitar 4 tahunan lalu. Gue yakin da percaya, kalau ada temen yang minta oleh-oleh itu 90 persen lebih enggak serius. Mereka cuma bercanda, enggak minta, tapi ya kalau ada oleh-olehnya syukur. Konteks dari menanyakan oleh-oleh ke teman yang sudah bepergian adalah keakraban, basa-basi, keindahan. Itu sudah jadi budaya yang cukup lama bertahan.

Kalau kamu beruntung, pasti kamu akan dikasih oleh-oleh, tapi kalau tidak, ya siap-siap menerima jawaban klasik, “Ada tuh, baju kotor.” Begitulah dialektika sederhana, tapi penuh makna. Dari percakapan sederhana itulah akan muncul obrolan lain yang mengakrabkan. Dan jawaban baju kotor buat gue lebih bisa diterima daripada jawaban dalil. Memang gue masih tersesat, begitu dikasih dalil bukannya lebih bisa meningkatkan iman dan takwa, tapi malah tidak menerima. Kan jawaban dalil itu juga bentuk keakraban? Kalau keakraban enggak akan dikasih dalil, tapi dikasih oleh-oleh. Jangan salah, sampai saat ini gue masih temen baik sama si Anjas itu.

Bicara soal oleh-oleh, banyak orang yang punya kebiasaan wajib membeli oleh-oleh ketika pergi ke luar daerah untuk orang-orang terdekatnya. Tapi bukan gue. Gue kadang males beli oleh-oleh karena ribet bawanya, karena kalau beli sedikit itu tanggung banget. Gue juga merasa eksklusivitas oleh-oleh di Indonesia itu sudah tidak seperti dulu. Kriteria oleh-oleh yang pasti gue beli adalah yang tidak ada di kota lain selain kota itu. Misalnya, ketika ke DIY oleh-olehnya bakpia. Ternyata di Bandung juga gue bisa beli bakpia. Sekarang, makanan apa yang hanya bisa ditemui di satu daerah saja?

(Ditulis sambil pemanasan ngerjain PKTBT tapi justru malah bikin ngantuk)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *