Makan 20 Menit

PPKM yang kali ini dilabeli Level 4 diperpanjang sampai 2 Agustus 2021. Ada sedikit pelonggaran, orang boleh makan di tempat yang jualan asalkan tidak melebihi 20 menit. Sontak setelah pengumuman itu netizen ramai membuat meme dan mengolok kebijakan tersebut.

Kita memang tidak kekurangan orang kreatif. Ada saja editan foto yang bisa mengocok perut, misalnya piring yang diberi stopwatch bawaan, atau dialog rekaan yang menggambarkan kepanikan pelanggan warteg yang jatah waktu makannya sudah habis.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga tidak luput dari keisengan warga maya. Dia edit seolah Anies sedang makan di warteg dan didampingi pembawa acara Uang Kaget (lupa namanya siapa, pokonya pemeran Imas di Preman Pensiun). Mengejutkan, Anies pun merespons meme tersebut dengan santai.

Media elektronik juga banyak mengangkat topik tersebut. Saya menonton TV One misalnya, yang mengundang Ketua Warteg Nusantara dalam sebuah telekonferensi untuk mengetahui pendapatnya tentang kebijakan tersebut. Tersiar kabar juga TNI dan Polri akan dikerahkan untuk mengawasi pelaksanaan protokol makan di tempat 20 menit.

Saya menerjemahkan, mayoritas warga menertawakan kebijakan tersebut karena itu konyol. Opini saya, konteks dari kebijakan ini bukan hanya pada 20 menitnya. Tapi, pemerintah ingin memberikan sebuah batasan terukur, agar siapapun yang hendak makan di tempat, ya silakan, asal makan saja, tidak ngerumpi. Apa hal yang membuat kita berlama-lama di tempat makan? Mengobrol. Makan sambil mengobrol, sambil membuka masker, memang nikmat, tapi potensial untuk muncratnya droplet.

Saat PPKM Darurat, restoran hanya membolehkan take away, pembeli tidak boleh makan di lokasi. Bahkan sempat viral beberapa video yang menampilkan konflik antara pemilik restoran dan petugas yang mendisiplinkan kebijakan.

Sekarang, pemerintah mengambil jalan tengah. Supaya pendapatan pengusaha kuliner tidak kian terpuruk, masyarakat boleh makan di tempat. Tapi itu juga jangan sampai menjadi ajang penularan Covid-19. Makanya diatur, 20 menit maksimal. Saya kira aturannya cukup adil.

Pertanyaannya, bagaimana penerapan 20 menit itu? Siapa wasitnya? Presiden ternyata overestimate sama rakyatnya sehingga timbul pertanyaan itu. Rakyatnya berpikir akan ada pengawas yang menjadi pengadil bagi yang makan. Padahal Kombes Pol. Yusri Yunus pernah mengatakan kalau semua aparat dikerahkan hanya untuk mengawasi waktu makan, personilnya akan habis. Jadi siapa wasitnya? Jelas diri sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *