Menyusuri Pantai Utara Bali (Lombok #9)

Kamis, 4 September 2025

Semalam saya menginap di sebuah glamping di Kintamani. Udara malamnya dingin, rasanya seperti tidur di tenda di tengah kabut. Meski aksesnya cukup sulit, pemandangan yang saya dapatkan sejak malam hingga pagi sungguh luar biasa. Sayang sekali, saya tidak bisa berlama-lama di sana. Suasananya tenang, udara sejuk, dan panorama Danau Batur di kejauhan terasa memanggil untuk tinggal lebih lama. Tapi perjalanan harus berlanjut.

Sebelum berangkat, saya sempat bertanya pada petugas penginapan tentang rute terbaik. Ia menyarankan agar saya mengambil arah Penelokan kemudian menuju utara, karena jalan ke arah Tianyar dikabarkan banyak yang rusak. Tapi seperti biasa, saya tidak langsung percaya begitu saja. Saya buka street view, dan ternyata kondisi jalannya masih cukup bagus, meski jaraknya sekitar 10 km menuju jalan raya utama.

Untuk memastikan, saya mencari second opinion dari seorang pemuda di pinggir jalan. Ia bilang jalan dari penginapan menuju Tianyar justru mulus beraspal, hanya saja berkelok-kelok dan menurun tajam. Dua hal itu bukan masalah bagi saya. Akhirnya, saya putuskan untuk menuruni bukit ke arah Tianyar, jalur yang menawarkan lebih banyak pemandangan laut dibanding rute melalui Penelokan.

Keputusan itu memang punya konsekuensi: saya harus rela melewatkan momen menikmati Danau dan Gunung Batur di pagi hari. Semalam saya tiba terlalu larut, jadi belum sempat melihatnya. Sepertinya saya memang harus “remedial” ke Kintamani suatu hari nanti, mungkin menginap dua atau tiga malam agar bisa menikmati keindahan Batur sepenuhnya.

Menuruni bukit menuju Tianyar terasa menyenangkan. Pemandangan laut Bali terlihat jelas dari kejauhan, sementara kiri-kanannya dipenuhi ladang warga dan rumah-rumah kecil. Sekitar 15 menit saya terus menurun, dengan indikator bensin yang sudah berkedip sejak awal. Begitu sampai di jalan raya, saya langsung mencari SPBU terdekat dan mengisi bahan bakar sebesar Rp52.000. Lega rasanya.

Kini saya berada di jalur Pantai Utara Bali, jalan lurus dari Kecamatan Kubu, Karangasem, hingga ke Gilimanuk. Tidak perlu repot memikirkan rute bercabang, cukup ikuti garis pantai ke arah barat.

Pemandangan di Pantai Utara Bali sungguh memanjakan mata, terutama di sekitar Tejakula, Buleleng. Jalan raya diapit garis pantai di sebelah kanan, membuat perjalanan terasa seperti menembus lautan biru. Saya lalu melintas di Singaraja, ibu kota Kabupaten Buleleng, kota yang dulunya merupakan ibu kota provinsi Bali sebelum dipindahkan ke Denpasar. Di sana suasananya ramai, pusat aktivitas masyarakat di wilayah utara Pulau Dewata.

Memasuki Gerokgak, panorama laut kembali menyapa di sisi kanan jalan, sementara tebing tinggi berdiri gagah di sebelah kiri. Sungguh sayang jika dilewati begitu saja, tapi saya harus tetap menjaga waktu agar tidak berkendara malam hari.

Masih di wilayah Buleleng, tepatnya di Gerokgak juga, saya untuk pertama kalinya melihat masjid besar di sepanjang perjalanan kali ini. Rasanya sedikit kontras tapi juga hangat, mengingatkan saya bahwa Pulau Dewata juga penuh keberagaman.

Setelah hampir tiga jam perjalanan, saya tiba di kawasan Taman Nasional Bali Barat, tanda bahwa Gilimanuk sudah tak jauh lagi. Biasanya saya membeli tiket kapal secara daring lewat ponsel, tapi kali ini aplikasi saya error. Akhirnya saya beli langsung di loket tepi jalan. Selisih harganya tidak signifikan, tidak jadi masalah.

Sekitar pukul 11.30 WITA, saya tiba di Pelabuhan Gilimanuk. Perjalanan di Pulau Bali pun berakhir, dan petualangan selanjutnya menanti di Pulau Jawa.

Bagaimana kisah saya setelah menyeberang Selat Bali?
Nantikan kelanjutannya di episode berikutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *