Mengaspal di Lombok Utara (Lombok #7)

Hari ini saya harus segera meninggalkan Sembalun. Sebuah wilayah di kaki Gunung Rinjani yang nyaman untuk ditinggali. Udara sejuk dengan pemandangan pegunungan di sekelilingnya membuat siapapun takjub saat singgah di sini. Sayangnya, hanya satu hari saya habiskan di serpihan surga ini.

Saya sudah memesan kapal penyeberangan menuju Padangbai, Karangasem, Bali. Estimasi perjalanan menuju pelabuhan melalui utara adalah 3 jam. Sebetulnya tersedia jadwal pukul 11.30, tetapi saya memilih mengambil aman untuk berangkat pukul 13.30 supaya tidak terburu-buru di jalan. Kemungkinan terburuknya, jika saya membeli yang 11.30 dan saya sampai di pelabuhan melebihi waktu tersebut, tiket saya hangus. Jadi saya memilih jadwal yang lebih siang.

Saya berpamitan dengan Fadil, rekan perjalanan selama tiga hari ini. Saya berpetualang lagi secara solo. Melaju ke arah utara, saya disuguhkan dengan pemandangan Gunung Rinjani yang sangat cerah pagi ini. Memulai perjalanan pada pukul 8 pagi, udara masih segar, langit begitu biru karena tidak tertutup awan.

Saat melintasi Sembalun Lawang, jalan mulai menurun dan berkelok. Di kiri kanan jalan mulai jarang ada permukiman, banyak pohon-pohon tinggi menjulang. Dari arah kejauhan terlihat perairan utara Lombok. Dari ketinggian 1.200-an mdpl, saya menuruni pegunungan dan menuju jalan di pinggir pantai.

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah pertigaan, nama dusunnya adalah Kokok Putek, ujung Kecamatan Sembalun. Di pertigaan itu terdapat aktivitas jual beli layaknya pasar. Saat melihat ada SPBU mini di sana, saya memutuskan untuk mengisi BBM.

Selepas Kokok Putek, jalan kembali berkelok, melewati sungai, dan lahan perkebunan warga. Saya telah tiba di Lombok Utara, tepatnya di Kecamatan Bayan. Dari sini, pemandangan Letter E Rinjani sangat jelas. Pemandangan dari sisi utara lebih megah dibanding dari sisi timur gunung. Jalan berkelok, kendaraan tidak ramai, aspalnya mulus. Inilah kondisi idaman bagi para pemotor. Nikmat sekali.

Setibanya di Kayangan, saya terpana karena bisa melihat pantai di sebelah kanan jalan. Saya tidak melihat pantai yang kotor di sini. Semuanya bersih, mempesona, menakjubkan. Saya menemui keramaian lagi saat memasuki ibukota Kabupaten Lombok Utara, yaitu Tanjung. Di Tanjung ini seolah semuanya ada.

Setibanya di Pamenang, terdapat sebuah pertigaan. Peta mengarahkan belok kiri jika ingin waktu tempuh lebih cepat. Namun, saya memilih lurus menuju Senggigi, walaupun jalannya lebih jauh 13 km. Saya yakin ini sebanding dengan pemandangan yang akan saya dapat.

Benar saja, sepanjang jalan ini, walaupun naik turun bukit dan berkelok, pemandangannya sangat luar biasa. Pantai yang bersih dan air laut yang berwarna tosca membuat saya takjub sepanjang perjalanan. Rasanya menarik jika berkendara di jalanan ini pada sore hari.

Setibanya saya di Bukit Malimbu, saya berhenti untuk mengambil beberapa gambar. Pemandangan dari sini begitu istimewa. Saya bisa melihat Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air dari sini. Jalanan begitu sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas di sini saat saya berhenti.

Saya bergerak lagi ke arah selatan. Di sebuah titik saya agak terheran karena banyak mobil terparkir di pinggir jalan. Ternyata di Batu Layar terdapat makam salah seorang tokoh penyebar agama Islam. Beberapa referensi menyebutkan itu petilasan. Sayang sekali saya tidak merekam momen saat melewati titik tersebut.

Tidak lama, saya sampai di sebuah lokasi yang memiliki gaya arsitektur tua. Benar saja, ini adalah Kota Tua Ampenan yang terkenal itu. Secara administratif, Ampenan ini masuk ke dalam Kota Mataram. Suasana kota begitu berbeda dibandingkan daerah lain yang saya lalui beberapa hari terakhir ini. Sebelumnya saya disuguhkan dengan pantai dan pegunungan yang menawan, sekarang saya berada di tengah perkotaan yang mewah dan modern.

Misi selanjutnya adalah membawa cucian saya di D’Gas Laundry yang berlokasi di Jalan Bung Karno. Kemarin saya menitipkan cucian di sini. Lagi saya katakan, mencuci baju di kota tujuan adalah cara agar tidak banyak baju yang saya bawa di atas motor. Baju yang saya kenakan sekarang dua hari saya pakai. Untungnya masih terasa nyaman. Hehe.

Setengah jam lagi jadwal kapal yang saya kejar akan berangkat. Saya langsung bergegas menuju Lembar untuk mengejar kemungkinan berangkat lebih cepat. Saya melewati jalan yang kemarin dan selumbari saya lewati.

Setibanya di Lembar saya agak bingung, gerbang mana yang harus saya masuki. Akhirnya saya bertanya ke akamsi yang kebetulan menjual tiket dan menawarkannya kepada saya. Sayangnya saya sudah membeli secara daring sejak dari Sembalun pagi tadi.

Waktu menunjukkan pukul 11.18, ternyata di gerbang masih banyak pemotor yang mengantre ke dermaga. Saya bergegas mengekor ke mereka, memberikan kode QR tiket pembelian sebagai syarat masuk ke pelabuhan. Senang rasanya bisa ikut naik kapal yang lebih dini. Artinya, saya lebih cepat sampai Bali. Di sana, saya tidak akan menginap di pelabuhan. Ada jarak yang masih harus saya tempuh. Jadi, saya berharap masih bisa menemukan matahari di Pulau Dewata hari ini.

Setelah menyerahkan boarding pass, saya memasuki Kapal Motor Naraya, yang terlihat megah dari kejauhan. Kelihatannya saya termasuk barisan terakhir yang memasuki kapal ini. Benar saja, begitu masuk ke dalam kapal, sudah banyak penumpang yang memenuhi kursi-kursi yang tersedia. Beberapa di antara mereka menyimpan tas di kursi sebelahnya, seolah enggan memberikannya untuk orang lain. Banyak di antara penumpang yang harus duduk lesehan di lantai kapal. Mungkin itu lebih nyaman bagi mereka.

Saya melihat seorang pemuda duduk sendiri dan kursi di sebelahnya masih kosong. Saya meminta izin untuk duduk di sebelahnya, dan diizinkan. Kami sempat mengobrol beberapa kali.

Saya merasa agak lemas, baru teringat bahwa asupan makanan terakhir adalah pagi tadi sepulang dari Bukit Selong. Saya hanya makan satu lontong yang berbentuk kerucut, khas Lombok, dan dua buah gorengan.

Melihat banyak pedagang berlalu lalang sebelum kapal lepas jangkar, saya membeli nasi bungkus seharga Rp10.000. Rasanya cukup nikmat untuk tubuh yang kekurangan gula ini. Saat bosan melanda, saya berjalan berkeliling kapal, melihat beberapa bagian kapal. Kapal ini cukup bersih, fasilitas lengkap, musala dan toilet bersih. Ruang restorasi juga tersedia. Tidak ada keluhan saat saya menaiki KM Naraya ini. Hanya memang, gelombang di Selat Lombok ini cukup besar. Baru beberapa menit kapal berangkat, guncangan gelombang sudah sangat terasa.

Pukul 12.00 kapal berangkat, empat jam kemudian sudah sampai Padangbai. Namun, karena sibuknya pelabuhan ini, kapal tidak langsung bersandar. Kami terombang ambing selama 90 menit karena mesin kapal dimatikan sambil menunggu waktu sandar. Saya sempat kesal karena waktu ini terbuang sia-sia. Saya khawatir sampai tempat tujuan saya lewat malam.

Pukukl 17.30, penumpang diizinkan keluar dengan kendaraan masing-masing, tiba di Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali. Saya kembali ke Pulau Dewata, setelah dua tahun.

Ke mana saya selanjutnya?

Ikuti terus perjalanan saya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *