Selasa, 2 September 2025
Setelah beberapa saat menikmati keindahan Bukit Seger dengan pemandangan Pantai Seger dan Sirkuit Mandalika, saya dan Fadil melanjutkan perjalanan menuju Sembalun di Lombok Timur.
Sembalun terletak di kaki Gunung Rinjani. Wilayah ini dikelilingi oleh bukit dan pegunungan yang menjulang tinggi, menjadikannya primadona bagi para pelaku touring. Pemandangannya menakjubkan dan suasananya begitu menenangkan.
Awalnya kami berencana mampir ke Bukit Merese dan Pantai Pink. Namun, kami berpikir bahwa pemandangan di Bukit Merese mungkin tidak jauh berbeda dengan yang kami nikmati di Bukit Seger. Selain itu, berdasarkan foto-foto yang kami lihat di Google Maps, warna Pantai Pink tampak tidak terlalu “pink”. Akhirnya, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul setengah dua siang waktu setempat, kami melewati Bundaran Sirkuit Mandalika, menuju Praya Timur, dan kemudian ke arah Sakra. Di perbatasan antara Sakra dan Selong, kami memutuskan untuk mengganti oli mesin motor.
Sambil menunggu, saya mencari sesuatu untuk dimakan karena belum makan lagi sejak sarapan di Mataram. Dari kejauhan, terlihat gerobak siomay dan batagor. Saya penasaran, apakah banyak juga orang Lombok yang berjualan siomay dan batagor? Di dekat situ juga ada Indomaret yang memiliki ATM.
Awalnya, pemilik bengkel tampak kurang berkenan menerima pembayaran nontunai. Tapi akhirnya ia mengizinkan. Meski begitu, saya berpikir ada baiknya saya menarik uang tunai untuk jaga-jaga selama perjalanan berikutnya. Setelah mengambil uang, saya langsung menghampiri gerobak tadi.
Ternyata, penjual batagor itu berasal dari Sukaresmi, Garut. Rasanya menyenangkan bertemu orang sekampung di tempat sejauh ini. Satu porsi batagor dijual seharga Rp10.000, harga yang sangat wajar.
Menuju Pusuk Sembalun
Setelah oli diganti, motor terasa lebih bertenaga. Kami pun melanjutkan perjalanan. Memasuki wilayah Kecamatan Suela, jalan mulai menanjak dan menyempit. Vegetasi berubah, pohon-pohon di kiri kanan semakin lebat, menutupi sinar matahari.
Sesekali, tampak beberapa ekor monyet di pinggir jalan, menengadahkan tangan seolah meminta makanan. Saya selalu merasa miris melihat pemandangan seperti ini. Akibat ulah sebagian pengendara yang memberi makan, monyet-monyet itu kehilangan naluri mencari makan di alam.
Tak lama kemudian, kami tiba di dekat Pemandian Air Panas Sebau. Saya sempat mengganti baterai action cam dan bergantian dengan Fadil mengambil foto. Setelah itu, kami kembali tancap gas menuju Pusuk Sembalun, salah satu titik ikonik di Lombok Timur.
Namun, di tengah perjalanan, terdengar suara seperti benda jatuh. Saya tidak terlalu menghiraukan karena mengira itu bukan dari tas saya. Belakangan, barulah saya sadar bahwa baterai dan dock charger action cam saya terjatuh.
Bagi yang mengikuti perjalanan saya sejak episode 1-3, tentu tahu bahwa saya hanya memiliki dua baterai yang berfungsi optimal. Kini satu baterai hilang, dan saya harus bertahan dengan satu baterai hingga pulang ke Bogor.
Indahnya Pusuk Sembalun
Kami tiba di Pusuk Sembalun, titik tertinggi di jalur ini, dengan ketinggian sekitar 1.625 mdpl. Dari atas sini, pemandangan Sembalun Lawang dan sekitarnya begitu indah. Sawah, rumah-rumah penduduk, dan bukit-bukit hijau terlihat menakjubkan.
Jujur, sejauh ini, ini mungkin jalanan terindah yang pernah saya lewati seumur hidup. Pemandangan semegah ini belum pernah saya nikmati di Pulau Jawa. Saya bahkan berjanji dalam hati untuk kembali lagi suatu saat nanti.
Setelah turun dari Pusuk Sembalun, kami memasuki kawasan pemukiman warga. Aktivitas penduduk tampak ramai. Anak-anak sekolah, orang mengaji, pasar, hingga pengusaha homestay yang sibuk melayani wisatawan.
Kami sempat mampir ke gerbang pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani yang berjarak beberapa kilometer dari penginapan. Di sana, kami bertemu para pendaki dari Banjarnegara, Purwakarta, dan Tangerang Selatan. Tentu, kami tak melewatkan kesempatan berfoto di depan tulisan besar “Taman Nasional Gunung Rinjani”.
Sore hari, kami tiba di penginapan. Tidak ada resepsionis, jadi saya menghubungi nomor yang tertera di papan homestay. Tak lama, pemilik datang dan membukakan kamar. Meski sederhana, kamar cukup bersih dan dilengkapi air hangat, sudah lebih dari cukup bagi kami.
Malam di Sembalun
Malam di Sembalun terasa dingin. Kami sepakat mencari makan di sekitar penginapan saja. Tepat di seberang homestay, ada kedai makanan kecil. Saya memesan nasi goreng telur, sementara Fadil memilih bakso dan nasi goreng. Uniknya, telur di nasi goreng tidak disajikan utuh, sama seperti saat kami makan di warung di Mataram.
Setelah makan, kami segera beristirahat. Walau jarak tempuh hari ini tidak lebih dari 200 km, esok pagi saya harus mendaki Bukit Selong sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bali.
Rabu, 3 September 2025
Pagi di Bukit Selong
Keesokan paginya, saya berangkat menuju Bukit Selong, sekitar 4 km dari penginapan di Balai Sembalun Lawang. Jalan menuju lokasi cukup sempit dan minim petunjuk arah, tetapi akhirnya saya tiba. Fadil tidak ikut karena mengira bukit ini jalurnya panjang dan menguras energi.
Di sana sudah ada beberapa motor terparkir. Seorang warga lokal menjaga loket sederhana. Saya diminta menulis nama dan asal di buku tamu, serta membayar tiket masuk Rp15.000 (tanpa karcis).
Saya mulai menapaki jalan setapak menuju puncak. Di tengah jalan, ada petilasan peninggalan Majapahit. Saya sempat tersesat karena memilih jalur kiri menuju petilasan yang ternyata buntu. Setelah berputar sedikit, saya menemukan jalur yang benar.
Hanya lima menit mendaki, tapi pemandangan di atas sungguh luar biasa. Gunung Rinjani tampak megah di kejauhan, dikelilingi hamparan sawah hijau dan bukit-bukit eksotis. Suara ayam berkokok, burung berkicau, dan gonggongan anjing berpadu dengan deru motor warga yang mulai beraktivitas.
Suasana pagi di Sembalun begitu syahdu dan menenangkan. Rasanya ingin berlama-lama, tapi waktu juga harus membuat saya kembali.
Bersambung.

