Kota Mataram adalah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus kota terbesar di Pulau Lombok. Suasananya terasa modern dan ramai, dengan deretan pertokoan, kuliner lokal, serta aktivitas masyarakat yang dinamis.
Pagi itu, kami mencari sarapan karena penginapan murah yang kami tempati tidak menyediakan makan pagi seperti hotel-hotel mewah pada umumnya. Selama perjalanan ini, saya memang selalu memilih penginapan yang ramah di kantong—cukup untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan panjang.
Kami akhirnya menemukan Warung Aizah di Jalan Ismail Marzuki, Cakranegara, Mataram. Di warung ini tersedia banyak pilihan lauk mulai dari sayuran tumis, gorengan, hingga sambal khas Lombok. Sarapan sederhana ini menjadi bekal energi sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama hari ini: Sirkuit Mandalika.
Rencana Laundry dan Persiapan Menuju Mandalika
Awalnya, saya berencana mencuci pakaian di Mandalika. Namun, setelah dipikir matang, menunggu dua jam untuk laundry express di sana terasa membuang waktu. Akhirnya, saya memilih opsi kedua: mencuci di Mataram dan mengambil hasilnya keesokan harinya ketika kami melintas lagi dalam perjalanan menuju Pelabuhan Lembar.
Konsekuensinya, saya harus menggunakan baju yang sama selama dua hari. Tidak masalah, karena perjalanan ini lebih menuntut efisiensi daripada kenyamanan.
Menuju Sirkuit Mandalika
Kami berangkat menuju selatan dari Mataram, melewati Bundaran Gerung di Kabupaten Lombok Barat, lalu berbelok ke arah tenggara menuju Kuta Mandalika. Jalan sepanjang 50 kilometer menuju sirkuit terasa sangat mulus dan nyaman dilalui.
Dari Bypass Bandara Internasional Lombok, kami berbelok ke kanan melewati jalan nasional yang melintasi Desa Adat Sade. Di depan area parkir desa, kami sempat berhenti untuk berfoto sebagai kenang-kenangan.
Setibanya di kawasan Kuta Mandalika, tepat di Bundaran Patung Ombak, kami berbelok ke kiri menuju Pertamina Mandalika International Circuit. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Pertama Kali Menyaksikan Sirkuit Mandalika dari Dekat
Saya sengaja datang bukan saat MotoGP Mandalika berlangsung. Belum ada niat untuk menonton secara langsung—mungkin nanti, jika pembalap muda Indonesia seperti Veda Ega Pratama masuk MotoGP, saya akan datang sebagai penonton.
Melintas di depan sirkuit, kami dibuat kagum. Tribun besar yang selama ini hanya terlihat di layar kaca kini terpampang di depan mata. Kami berhenti sejenak di area parkir barat untuk menikmati pemandangan.
Dari lokasi itu, kami bisa melihat lintasan dengan cukup jelas. Kami berfoto untuk mengabadikan momen ini—bukti nyata bahwa perjalanan jauh dari Bogor akhirnya membawa kami ke Mandalika.
Berinteraksi dengan Wisatawan Asing dan Menuju Bukit Seger
Saat kami berada di area tengara sirkuit, dua wisatawan asal Prancis menghampiri. Dengan bahasa Inggris sederhana, saya menawarkan untuk memotret mereka. Kami sempat berbincang singkat, dan saya menunjukkan foto-foto Bukit Seger, tempat terbaik untuk menikmati panorama Mandalika. Mereka tertarik, dan akhirnya kami sepakat untuk pergi ke sana bersama.
Saya meminta izin untuk mendokumentasikan interaksi kami dalam video dan mereka mengizinkan. Sayangnya, saya lupa menanyakan nama mereka.
Kami menelusuri jalan kecil di sisi luar sirkuit menuju Bukit Seger, sekitar dua kilometer dari area parkir barat. Di sana, kami membayar tiket masuk Rp5.000 per orang dan tambahan Rp10.000 untuk membawa motor hingga ke puncak bukit.
Menikmati Panorama 360 Derajat di Bukit Seger
Jalan menuju puncak tidak terlalu sulit bagi motor matic seperti Vario 160 yang kami kendarai. Setibanya di atas, rasa lelah langsung terbayar. Dari puncak Bukit Seger, pemandangan Pantai Kuta Mandalika terlihat luar biasa indah.
Warna air laut biru toska berpadu dengan batuan cokelat di tepian pantai. Dari sini, kami juga bisa melihat Tikungan 10 dan 11 Sirkuit Mandalika yang ikonik. Kami betah berlama-lama di puncak, menikmati angin dan keindahan alam Lombok yang menakjubkan.
Rasanya tidak percaya, perjalanan jauh dari Bogor akhirnya membawa kami ke tempat seindah ini. Mungkin karena datang di hari kerja, suasana begitu tenang dan sepi—seolah seluruh bukit hanya milik kami.
Menuju Sembalun: Lanjutan Petualangan
Sebenarnya, kami berencana mengunjungi Bukit Merese dan Pantai Pink, namun waktu tidak banyak. Akhirnya, kami memutuskan langsung melanjutkan perjalanan menuju Sembalun, destinasi berikutnya dalam petualangan panjang kami di Pulau Lombok.
Cerita perjalanan dari Mandalika menuju Sembalun, atau yang saya sebut “Jurassic Park-nya Lombok”, akan saya lanjutkan di tulisan berikutnya.

