Jeda mata pelajaran menjadi waktu untuk siswa bernapas. Guru belum memasuki ruang kelas kami. Beberapa siswa di kelas ada yang memanfaatkan jeda ini untuk ke toilet, mengobrol, atau duduk di luar kelas untuk sekadar menghirup udara segar hari itu.
Tidak seperti biasanya, Bu Neneng terlambat masuk kelas. Buku pelajaran Bahasa Indonesia yang tebal itu sudah saya keluarkan dari tas dan saya letakkan di atas meja, bersiap untuk pelajaran yang selanjutnya. Sambil mengatasi rasa bosan, saya membuka halaman demi halaman buku, sampai akhirnya saya menemukan cerita pendek dengan judul yang menarik.
Tak Menangis Saat Kalah
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba, mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini babak final. Hanya tersisa empat orang. Dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang mereka miliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, tetapi ia termasuk dalam empat anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang mobil itu tak semenarik lainnya. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil lainnya. Namun Mark bangga dengan itu semua, sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap empat mobil, dengan empat pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat kamit seperti sedang berdoa
Matanya terpejam dengan tangan tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian ia berkata, “Ya, saya siap.”
Dooor… Tanda telah dimulai. Dengan satu entakan kuat, mereka memulai mendorong mobilnya kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak sorai, bersemanagt menjagokan mobilnya masing-masing
“Ayo…ayo…cepat-cepat, maju-maju…,” begitu teriak mereka.
Ahhhaaaa… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah tertambat. Ternyata…. Mark lah pemenangnya. Semuanya senang begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat kamit lagi dalam hati, “Terima kasih, Tuhan.”
Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya,
“Hai, jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang , bukan?”
Mark terdiam,”Ya benar, tapi bukan doa meminta kemenangan yang saya panjatkan,” kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta kepada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. Saya hanya memohon kepada Tuhan, supaya saya tak menangis jika saya kalah.”
Semua hadirin terdiam mendengarkan itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan. Mark tampaknya lebih punya kebijaksanaan diabandingkan kita semua. Mark tidaklah memohon kepada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan untuk mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya.
Sampai tulisan ini dimuat, saya belum melupakan cerpen itu, mungkin satu-satunya cerpen yang saya ingat jalan ceritanya sampai saat ini. Begitu membekas, sampai memengaruhi pandangan saya untuk berdoa, mengubah cara saya berdoa. Tanpa bermaksud mengerdilkan kuasa Tuhan, tapi saya jadi tidak ingin memaksakan kehendak saya agar selalu Tuhan kabulkan.
Kini dalam setiap kesempatan, saya hanya berdoa semoga upaya yang sedang saya tempuh dilancarkan jalannya. Bagaimanapun hasilnya, saya berdoa agar saya ikhlas menerimanya. Bukan berarti pasrah dengan keadaan tanpa usaha. Jika ada kesempatan, akan saya tempuh jalan itu dengan semaksimal mungkin, hasilnya, itu saya anggap menjadi yang terbaik menurut Tuhan.
Saya jadi teringat ucapan Sabrang MDP, narasi Tuhan tidak membawa manusia kepada kemenangan, karena kemenangan adalah keinginan manusia. Narasi Tuhan justru membawa manusia kepada keselamatan.

