Saya seringkali merasa resah saat akan membayar makanan dengan uang dengan nominal besar, tetapi penjualnya tidak memiliki uang kembalian yang cukup. Menurut saya, setiap pedagang harus selalu menyiapkan uang kembalian, termasuk ketika mereka baru memulai usahanya di hari itu. Di saat teknologi perbankan sudah secanggih sekarang, lebih bagus lagi jika para pedagang menyediakan opsi pembayaran nontunai. Itu akan menyelesaikan masalah kembalian, saya rasa.
Faktanya, belum semua pedagang menyediakan pembayaran nontunai. Entah mengapa alasannya. Masalah tidak ada uang kembalian ini bisa menjadi konflik batin untuk saya pribadi. Apalagi jika membeli gorengan lima ribu rupiah dengan uang rupiah berwarna merah. Beberapa pedagang menampakkan muka masamnya saat saya menyodorkan nominal besar.
“Enggak ada uang pas?” tanya mereka seolah tidak percaya. Saya berujar, kalau ada uang pas, pasti akan saya berikan.
Akhir-akhir ini, jika ditanya seperti itu, saya selalu memperlihatkan seluruh isi dompet saya agar mereka percaya. Dengan melihat sendiri, mereka seharusnya langsung percaya. Respons mereka berbeda-beda setelah itu, ada yang langsung membuka laci tempat mereka menyimpan uang dan menghitung uang yang ada, ada pula yang berusaha menukar uang ke toko atau penjual lain di dekatnya, ada lagi yang menyuruh saya menyimpan uang itu dan datang lagi keesokan harinya. Saya biasanya keberatan dengan opsi terakhir, karena saya jadi berutang.
Saya jadi teringat, sekitar tujuh tahun yang lalu, di hari libur, saat saya menemani teman servis motor di sebuah bengkel resmi di Sumedang. Karena menunggu terlalu lama, kami tertarik membeli siomay yang dijual di gerobak yang sedang lewat di depan bengkel tersebut. Saya melihat siomay di gerobaknya masih penuh, saya pikir dia baru saja berangkat untuk berjualan di pagi itu.
Saya membeli siomay lima ribu dan membayarnya dengan uang berwarna biru. Penjual siomay sempat terdiam dua detik saat melihat uang yang saya berikan. Selama satu detik saya mengira dia belum ada uang kembalian. Benar saja, dia mengembalikan uang saya.
“Ini ambil saja dulu uangnya. Belum ada kembalian, besok lagi saja,” kata dia sambil tersenyum.
Saya bingung dengan situasi tersebut. Kami bukanlah orang yang setiap hari bertemu, saya tidak tahu di mana dia berjualan setiap harinya, dan dia bahkan tidak kenal siapa saya.
Setelah menyerahkan kembali uang saya, dia hampir mendorong lagi gerobaknya, seolah tidak peduli dengan kelanjutan transaksi di antara kami. Dengan tangan kanan, saya tahan gerobaknya supaya tidak melaju, dan memaksanya untuk berusaha menukarkan dulu uang saya ke warung terdekat. Kewajiban dia untuk mengupayakan tersedianya kembalian, walaupun kalau saya berbaik hati, bisa saja saya yang mengupayakan. Ah, tapi saya tidak baik hati.
Akhirnya dia menyeberang jalan raya dan mendatangi sebuah toko kelontong untuk menukarkan uang. Sekitar dua menit dia kembali dan memberikan uang Rp45 ribu kepada saya. Masalah selesai, dia melanjutkan usahanya, dan saya melanjutkan duduk menunggui motor. Sementara teman saya tidak berminat ketika saya tawarkan siomay karena mengaku sudah sarapan sebelum datang ke bengkel.
Tujuh tahun berlalu, saya masih mengingat momen tersebut karena tidak habis pikir dengan tingkah laku penjual siomay itu yang seolah tidak peduli dengan uangnya. Saya melihat ekspresi ikhlas dibandingkan kesal pada raut wajahnya. Ternyata saya baru menyadari, berprasangka baik, apa yang dia lakukan, mungkin, adalah bentuk kepasrahan kepada Yang Maha Kaya, bahwa segala hal kalau sudah ditakdirkan menjadi miliknya. Selama sudah berupaya maksimal, apa-apa yang sudah ditakdirkan, tidak akan kemana-mana. Mungkin dia percaya bahwa saya suatu hari akan mencari dia, atau ketika suatu hari saya bertemu dia akan membayarnya, atau bayarannya dari sumber lain yang tidak akan disangka-sangka.

