Setelah puas mengunjungi wisata luar ruang, saya dan rombongan bermaksud menyelesaikan liburan di Yogyakarta dengan berbelanja di sekitar Jalan Malioboro. Kami memarkirkan mobil di belakang Pasar Beringharjo, sehingga kami dapat melewati bagian dalam pasar sebelum sampai di Jalan Malioboro.
Ini adalah kedua kalinya saya menginjakkan kaki di Pasar Beringharjo, suasananya tampak sama seperti saat pertama. Lokasi kios yang rapih, bersih, dan keramahan penjualnya menjadi hal otentik dari pasar ini. Sesekali juga tercium aroma rempah-rempah yang agak pedas di hidung.
Tibalah kami berenam di bagian kios sandang yang menjual beraneka pakaian dan kain tradisional. Kami semua tampak sesekali melihat baju di sebelah kiri dan kanan jalur yang kami lalui, sambil melihat tanda harga, hanya penasaran. Saya juga begitu. Melihat-lihat ke sekitar sambil menerka barangkali ada pakaian yang sangat perlu saya beli. Saat melihat-lihat, saya menghindari kontak mata dengan penjualnya karena malas mengatakan kata tidak saat mereka menawarkan saya untuk mengunjungi kiosnya sejenak.
Saat kami nyaman berjalan, saya melihat di sebelah kanan ada kemeja batik hijau yang sangat elegan, digantung di bagian atas kios. Sambil berjalan, saya memanggil kembali ingatan saya, di mana melihat batik jenis seperti itu. Ternyata, itu adalah jenis batik yang mirip dengan yang dipakai kepala negara saat acara G-20 di Bali. Kualitasnya jelas jauh berbeda, namun motifnya sangat mirip. Seperti motif yang diatur transparansinya 75 persen.
Seperti biasa, batin saya bergejolak, apakah saya sangat perlu membeli batik itu. Tentu banyak sekali pertimbangannya sebelum memutuskan. Saya tiga detik mengentikan langkah. Di depan, Bu Wati berbalik dan bertanya kepada saya.
“Kenapa? Mau ada yang dibeli?”
“Itu tadi ada batik bagus banget,” jawab saya.
“Ya udah ayo beli. Mumpung lagi di sini loh,” Bu Wati geregetan.
“Enggak deh, nanti saja kapan-kapan,” saya meragu.
Keputusan untuk tidak membeli sudah final. Kami melanjutkan jalan ke luar pasar. Salah satu pertimbangan saya untuk tidak membeli yaitu karena tadi malam saya sudah membungkus dua kemeja batik lengan panjang di Klaten. Namun, saya tetap mengingat batik hijau tersebut dan menandai kiosnya di sebelah mana.
Tiga bulan berlalu, takdir membawa saya ke Yogyakarta lagi, tetapi dengan rombongan yang berbeda. Seperti agenda wisatawan pada umumnya, kami berbelanja di sekitar Malioboro sebelum kembali pulang. Saya ingat betul di mana lokasi batik hijau yang saya pernah inginkan. Sial, barang itu sudah tidak ada. Saya tidak terlalu menyesali, tetapi cukup menyayangkan.
Dari kejadian tersebut saya sinau, kita tidak pernah tahu berapa kali kita akan dipertemukan dengan seseorang. Kita juga tidak pernah tahu apakah pertemuan yang sedang terjadi adalah pertemuan yang terakhir atau bukan. Kita sering berucap sampai jumpa saat di ujung pertemuan. Ucapan itu berarti harapan dan doa kiranya Tuhan berkenan memberikan kesempatan agar kita berjumpa lagi di lain kesempatan.
Jadi, hargailah setiap pertemuan.

