Pidato Pernikahan

Tadi sore saya melihat story WhatsApp teman saya yang memperlihatkan kerabatnya yang sedang membacakan pidato lamaran kepada wanitanya dengan bantuan ponsel. Saya jadi ingin menceritakan sebuah kisah berikut ini.

Siang itu saya menghadiri pernikahan mantan saya. Untuk menghindari drama, saya berangkat sendiri dan merencanakan datang lebih siang, agar saat saya sampai, acara resepsi sudah hampir selesai dan saya bisa langsung menuju panggung pelaminan untuk bersalaman.

Ternyata acara berjalan molor, saat saya datang, acara kirab pengantin baru saja dimulai. Alhasil, saya harus melihat pertunjukan terlebih dahulu. Setelah menyapa beberapa teman saya yang hadir, saya memilih duduk di bangku agak belakang sambil menunggu dan menonton prosesi hingga selesai.

Tibalah saat pembawa acara mempersilakan pengantin pria untuk memberikan kata-kata pernikahan yang akan disampaikan kepada istrinya itu. Dalam hati, saya berpikir dan menerka apa yang akan disampaikan si pengantin pria. Apakah dia akan menceritakan bagaimana mereka pertama kali bertemu, atau bagaimana awal tumbuhnya perasaan cinta di antara mereka. Namun, yang disampaikan pengantin pria jauh dari dugaan saya. Saya berujar sendiri, “Gitu aja?”

Pada sela-sela acara resepsi, setelah memberikan ucapan selamat dan mengambil dua foto bersama, saya menyempatkan berbisik sambil bercanda kepada pengantin wanita.

“Mba, itu tadi suami kamu kasih pidato pernikahan kok isinya kaya sambutan ketua RT pas agustusan?”

“Hehe, iya, Mas. Suami saya memang tidak ahli dalam berkata-kata, dia lebih jago dalam hal tindakan. Enggak kaya kamu,” jawabnya sambil meledek.

Tidak lama setelah itu, saya pulang dan keluar gedung dengan menolak pemberian cinderamata berbentuk alat makan dari dayang-dayang pengantin. Mana sudi saya makan dengan alat makan yang tertera dua nama itu.

***

Sebagian cerita ini merupakan fiksi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *