Sambil memanaskan motor, sebelum berangkat kerja, saya biasa mengecek dompet untuk melihat apakah ada uang pecahan dua ribuan.
Kalau ada, saya lipat sekecil mungkin, kemudian saya genggam pada tangan kiri saya. Sambil motor berjalan, uang itu masih ada di genggaman tangan kiri saya, setidaknya sampai keluar gang dan memasuki jalan raya.
Uang dua ribuan tersebut saya genggam erat dan rapih, sehingga tidak bisa siapapun yang bisa melihatnya, termasuk Pak Ogah. Sang penjual jasa penyeberangan jalan yang marak beroperasi di kota-kota besar. Tugasnya mulia, membantu siapapun untuk mempermudah saat menyeberang jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara.
Hendaknya pengendara yang diseberangkan memberikan uang recehnya sebagai balas jasa karena Pak Ogah membantu menghentikan kendaraan dari arah lain.
Saya melihat ini sebagai transaksional, ada jasa, ada uang.
Saya menggenggam uang, sambil menunggu, apakah Pak Ogah yang bertugas hari itu cukup mengeluarkan upaya yang disebut jasa untuk saya atau tidak. Jika saya melihat kendaraan lain dibantu untuk diberhentikan, saya akan memberikan uang tersebut. Lain halnya jika tidak ada jasa yang dia berikan, saya akan masukkan kembali uang tersebut.
Memang tidak semua orang yang berdinas di pagi itu selalu menyeberangkan pengendara. Beberapa melihat mana yang sekiranya akan memberikan uang. Yang terlihat tidak memberikan uang, seperti pengendara motor yang tangannya tidak sedang menggenggam uang, akan dia abaikan, tidak akan dia bantu.
Saya bisa saja memperlihatkan bahwa saya menyiapkan uang, namun saya kira kita sesekali perlu berlaku transaksional kepada orang-orang tertentu.

