Ketika ada waktu senggang, saya sering pergi ke tempat jualan teman. Dia kadang dagang dari sore sampai malam. Teman sebangku saya memang sudah menjadi pengusaha. Sambil menunggu pembeli tiba, kita biasanya mengobrol. Entah tentang kisah kita dulu semasa SD dan SMP, atau hal lain.
Saya penasaran tentang berapa banyak keuntungan bersih yang dia peroleh dari usahanya dalam sehari. Tapi selalu dia jawab tidak tahu, karena dia tidak pernah mencatat uang masuk dan keluar. Katanya, kalau dihitung-hitung, pasti ada saja kurangnya.
Sebagai orang yang pernah sedikit belajar tentang keuangan, tentu saya protes, karena tidak ideal pelaku bisnis tidak mencatat uang masuk dan keluar.
Dua tahun berlalu, saya baru menyadari maksud dari teman saya itu. Ketika mencatat keuangan keluar terasa menyakitkan, sebaiknya tidak usah dicatat. Ada kalanya seperti itu.
(Ditulis setelah pulang dari tempat ayam goreng, kopi kekinian, kafe dengan city light, dan pecel ayam, dalam sehari).

