Mendoan

Melihat ada yang jual mendoan di Sopipud, saya enggak mikir lama lagi, langsung checkout 8 mendoan dan 5 tahu brontak. Soalnya selama di Bogor ini belum nemu mendoan yang bener-bener mendoan, bukan tempe goreng tepung. Mendoan yang tempenya lebar, lembek, berwarna kuning, aroma rempahnya terasa, dengan saos hitamnya yang sedikit asam. Harga satuannya juga Rp3.500. Semakin meyakinkan saya buat beli, apalagi dimakan dengan nasi hangat. Sangat mencukupi.

Teringat kembali waktu kuliah di Jatinangor, saya selalu beli mendoan di perempatan Pangkalan Damri (Pangdam). Bentuk dan rasanya seperti deskripsi saya di atas. Memang biasanya yang jual dari daerah Ngapak, Jawa Tengah bagian barat. Terngiang di kepala saya akan menyantap mendoan seenak itu lagi setelah sekian lama. Selama dua puluh menit menunggu, akhirnya Mas-mas berjaket jingga datang mengantarkan pesanan saya. Kesan pertama sangat positif, mendoan ini dibungkus semacam kardus kecil.

“Enggak nyasar mas?,” tanya saya sok akrab.
“Enggak mas. Maaf tadi agak lama, soalnya enggak kedengeran HP-nya kalau ada orderan,” jawabnya memelas.
“Iya enggak apa-apa, santai aja,” tegas saya.

Setelah saya klik order, memang arah mas itu menjauh dari toko mendoan, saya melihat dari aplikasi. Karena ragu, khawatir dia tidak bisa order, saya telepon, memastikan apakah bisa ambil orderan atau tidak. Dia bilang bisa. Setelah sampai, dia mungkin khawatir saya kasih bintang tidak lima. Tapi saya belum pernah kasih siapapun bintang tidak lima, sekalipun saya dibuat kesal.

Mas berjaket jingga pergi, saya siapkan sepiring nasi dan mendoan yang masih hangat jika dipegang dari bungkusnya. Saya lekas membuka, ternyata… ini bukan mendoan ngapak. Malah seperti mendoan di warung atau gerobak biasa itu. Cuma lebih lembek. Harapan saya ambyar. Tapi karena sudah telat 3 jam dari jadwal sarapan, tetap saya makan mendoannya.

Apakah saya kecewa? Iya, jelas. Tapi arah kekecewaan saya bukan ke chef tempe tepung goreng itu, justru ke diri saya sendiri. Seharusnya jangan berekspektasi terlalu tinggi. Dari situ saya sinau, kekecewaan tidak datang dari luar kita saja, tapi juga dari harapan kita yang terlalu tinggi. Jadi, untuk menghindari kekecewaan, sebaiknya kita menakar sebesar apa harapan yang harus kita jaga. Sering saya melihat tweet yang bilang, “Kalau kamu selalu dikecewain, jangan berharap.” Loh, untuk apa kamu hidup kalau tanpa punya harapan?

Manusia bisa hidup seminggu tanpa makan, tapi tidak hidup sedetik tanpa harapan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *