Masih Rabu, 3 September 2025
Di luar prediksi, kapal yang saya naiki baru bersandar enam jam setelah berangkat dari Lombok. Niat hati tidak kemalaman sampai Kintamani, berujung rasa khawatir seperti ini. Saya baru keluar dari kapal hampir pukul 6 sore. Cuaca masih cerah di Padangbai. Saat pintu kapal dibuka, motor dan mobil seolah tidak sabar ingin segera mendarat, setelah dua jam menunggu giliran bersandar.
Suasana di Pelabuhan Padangbai sore ini tidak begitu ramai. Kapal yang saya tumpangi juga tidak sampai setengahnya terisi. Begitu hendak keluar pelabuhan, kendaraan roda dua dibariskan, ada pengecekan surat-surat dari kepolisian. Untuk bisa masuk dan keluar dari Pulau Bali dengan sepeda motor, memang harus melewati pemeriksaan surat-surat. Ini bagus menurut saya.
Begitu mencapai jalan nasional, saya mengarah ke barat daya. Jalannya tidak terlalu lebar, dengan antrean kendaraan yang panjang, tetapi tetap lancar. Saya berharap sampai Kintamani langit masih terang, sehingga bisa menikmati pemandangan di Penelokan yang ikonik itu. Maka, saya agak bergegas sepanjang jalan.
Oh iya, sebelumnya saya berencana silaturahmi dengan Om Bro, pemilik kanal YouTube DK 6060 BRO. Artinya saya harus ke Denpasar. Jika malam ini menginap di Denpasar, esoknya saya harus berangkat pagi sekali menuju Kintamani, agar sampai Jawa Timur tidak terlalu malam. Mengingat waktu cuti saya yang terbatas dan enggan sampai Jawa Timur terlalu larut malam, saya memutuskan untuk menunda perjalanan tersebut. Saya memilih untuk bermalam di Kintamani malam ini.
Saat melintasi Jalan Besakih, matahari sudah semakin tenggelam, langit semakin gelap pertanda malam akan segera datang. Dari kejauhan saya dapat melihat Gunung Agung yang beberapa hari lalu saya lihat dari sisi utara. Suasana magrib terasa berbeda. Sepanjang jalan ini, banyak pura di kiri dan kanan jalan.
Dua kali saya sampai Bali menjelang malam. Perasaan hati selalu tidak nyaman. Lain kali, saya tidak boleh kemalaman saat sampai pulau yang cantik ini.
Semakin lama, jalan semakin menanjak, mengarah ke Jalan Batur Tengah. Saya melewati hutan dengan pohon tinggi menjulang di kiri dan kanan jalan, tanpa penerangan, kabut sesekali muncul. Suasana hati semakin mencekam, tapi saya mampu untuk tetap tenang. Saya yakin, saat langit terang, jalan yang saya lewati ini pasti indah sekali. Ah, andaikan kapal sandar tidak selama tadi.
Dari Jalan Batur Tengah, Penelokan sudah tidak terlalu jauh. Saya sudah sampai Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Sebetulnya, bisa saja saya memilih jalan yang lebih ramai, namun dengan rute yang sedikit memutar.
Begitu saya melewati Penelokan, langit sudah gelap. Pemandangan yang eskotis itu tidak terlihat sama sekali. Saya bergegas menuruni bukit menuju Danau Batur. Penginapan saya masih 12 km lagi di arah timur danau. Sebelum menelusuri jalan di pinggir danau, saya berhenti dulu untuk membeli perbekalan dan makan malam di Jaya Fried Chicken.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan yang estimasinya sekitar 30 menit perjalanan, saya menghubungi pemilik penginapan bahwa saya akan check-in beberapa saat lagi. Di sini, saya sejenak menghela napas. Perjalanan hari ini dari Sembalun cukup melelahkan. Rasanya raga ini ingin segera merebah di kasur. Itu yang membuat saya semangat melanjutkan perjalana ke penginapan.
Saya melanjutkan perjalanan ini, melintasi jalan di pinggir Danau Batur, menuju perbukitan di arah timur. Begitu sampai ke bagian timur danau, rute semakin curam, jalan menanjak dan jalur semakin sempit.
Di bawah kegelapan malam, saya memasuki hutan yang lebat. Saya membayangkan sebagus apa pemandangan esok hari di penginapan. Untungnya, jalan diaspal sampai ke parkiran mobil. Sampai parkiran mobil, tugas selanjutnya adalah menemukan glamping yang saya tuju. Sulit sekali menemukannya. Rasanya saya sudah berada di titik yang ada di peta. Namun, saya tidak melihat bangunan yang mirip resepsionis atau semacamnya. Jalan setapak saya tempuh. Saking sempitnya, saya repot saat harus putar balik motor ini. Akses menuju penginapan saya sangat sulit.
Akhirnya saya menemukan tiga tenda yang berjajar, saya curiga inilah tempatnya, walaupun terlihat sangat sepi. Saya kemudian menghubungi pemilik penginapannya. Tiga menit kemudian, pegawai yang sedang bertugas malam itu datang. Mengantarkan saya ke tenda yang tersedia. Menjelaskan segala fasilitas yang ada, menawarkan menu makanan yang bisa disajikan dengan biaya tambahan.
Lekas, saya membawa barang bawaan saya di motor dan memindahkannya ke dalam tenda. Saya ingin segera tidur malam ini. Namun, saya belum bisa tidur kalau belum dalam keadaan bersih. Sayang sekali akses menuju kamar mandi dari tenda ini sangat sulit. Saya harus menuruni tangga bambu untuk menuju kamar mandi. Ini sangat menyulitkan. Alih-alih mengeluh, saya lebih memilih menertawakan pengalaman unik ini.
Saat kondisi badan sudah bersih, saya coba untuk memejamkan mata, tetapi tidak mudah. Dari kejauhan terdengar suara warga yang menyanyikan lagu daerah Bali, entah sedang dalam kegiatan apa. Di ketinggian ini, suhu dingin mampu menembus kulit. Tenda kain semacam ini memang tidak mampu menahan dinginnya suhu di luar. Walaupun telah menggunakan selimut yang tebal, badan saya masih merasakan dingin khas pegunungan.
Kamis, 4 September 2025
Menjelang waktu subuh, saya keluar dari tenda menuju kamar mandi. Saya begitu takjub melihat bintang begitu banyak berkilauan di langit. Inilah yang saya cari, inilah alasan saya bersikeras ingin bermalam di Kintamani. Langit yang bersih dari polusi cahaya dan penuh dengan bintang dan pemandangan menawan Gunung Agung dan Gunung Abang.
Sayang sekali, pemandangan matahari terbit pagi ini terhalang kabut. Padahal, kalau sedang cerah, Gunung Rinjani bisa terlihat dari sini. Begitu klaim penjaga penginapan saya. Beberapa saat kemudian, langit semakin bersih, kabut pun menghilang. Pemandangan Gunung Agung, Gunung Abang, dan Danau Batur bagian timur terlihat sangat mengesankan. Ah, terbayar sudah penderitaan saat menuju ke lokasi ini.
Sayang sekali, saya tidak bisa berlama-lama di sini, agar sampai ke tujuan selanjutnya tidak terlalu malam nantinya. Sebetulnya, banyak sekali tempat yang ingin saya kunjungi, salah satunya Makam Terunyan yang melegenda itu.
Semoga kapan-kapan bisa ke Kintamani lagi.
Saatnya melanjutkan perjalanan.
Bersambung…

