22 Jam di Atas Laut (Lombok #4)

Rasanya tubuh ini gerah sekali, keringat menempel di tubuh, bercampur dengan debu sisa perjalanan siang sampai sore hari ini. Ingin rasanya di malam hari ini langsung mandi dan beristirahat, tetapi saya harus terjaga sampai pukul sebelas malam untuk menaiki kapal.

Selepas mengisi perut di Bangkalan, saatnya kembali ke Surabaya. Dengan melewati lagi Jembatan Suramadu, saya bergegas menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Saya tiba dua jam sebelum waktu lepas jangkar. Sempat khawatir sudah banyak kendaraan yang memasuki kapal dan saya harus antre dengan kendaraan lain.

Pukul sembilan malam, sesampainya di pelabuhan, ternyata kapal belum selesai menurunkan kendaraan penumpang. Saking bingungnya, saya malah masuk ke kepal, berharap ada petugas yang mengurusi antrean dan tiket untuk kendaraan. Bukan tanpa alasan, saya tidak melihat ada petugas berlalu lalang untuk mencetak tiket. Ternyata saya menunggu di tempat yang salah.

Setelah menemukan petugas, saya menunjukkan tiket elektronik berbentuk kode QR untuk dicetak menjadi tiket fisik, dua kupon makan, dan gelang berwarna sesuai dengan kelas yang dipilih. Saya memilih kelas ekonomi tidur, jadi diberikan gelang berwarna merah. Biaya kelas tersebut dengan membawa kendaraan motor adalah sebesar Rp681.500.

Dua puluh menit kemudian, kendaraan roda dua diizinkan masuk ke kapal, setelah sebelumnya kami semua dicetakkan tiket fisiknya. Saya sangat antusias. Saya akan meninggalkan Pulau Jawa sebelum beberapa hari nanti kembali lagi. Perjalanan belum sampai setengahnya. Perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Geladak paling bawah dikhususkan untuk kendaraan roda dua dan mobil kecil. Di atasnya kendaraan besar bertempat. Sehingga saya harus masuk lebih awal, keluar paling akhir. Saya telah memisahkan barang-barang yang akan dibawa ke kapal, dan barang apa saja yang disimpan dalam motor. Pakaian, alat mandi, peralatan elektronik, dan sandal saya bawa ke atas. Sisanya saya tinggal saja.

Ketika masuk ke atas kapal, saya melihat puluhan kursi berjajar dengan panggung sederhana di depannya. Inilah kelas ekonomi duduk. Namun, tempat saya bukan di sini. Masih harus ke belakang lagi. Saya melihat kursi dan tempat tidur itu terdapat nomor. Saya belum tahu saya harus di nomor berapa, atau bebas saja seperti halnya di stadion. Akhirnya saya menemukan tempat tidur saya. Bergegas saya simpan barang-barang yang menempel di tubuh. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan.

Saya bertemu dengan Jally dan temannya. Mereka dari Kediri dan Sidoarjo. Begitu saya mengatakan berasal dari Bogor, mereka terkejut karena di samping saya juga asalnya dari Bogor, tapi orangnya sedang tidak ada di lokasi, mungkin sedang di toilet. Mereka juga tidak sengaja bertemu, walaupun tujuannya sama akan ke Gunung Rinjani.

Setelah bertemu orang Bogor itu, Fadil namanya, kami mengobrol. Senang sekali bisa bertemu tetangga di perjalanan nan jauh ini. Dia rencananya akan naik gunung 5 hari kemudian. Singkat cerita, kami sepakat untuk berkendara bersama di rute selanjutnya.

Sebelum tidur, saya ingin menyaksikan kapal ini melewati Jembatan Suramadu dari bawah. Saat kapal berangkat sesuai waktunya, saya khidmat menyaksikan dari geladak paling atas. Sinar rembulan di atas langit Surabaya semakin menjauh seraya kapal ini melepaskan jangkarnya. Dari kejauhan, lintangan jembatan terpanjang di Indonesia mulai terlihat. Lampu Suramadu kini tak seterang dulu, begitu kata Aji, orang asli Madura, besar di Bekasi, sebelumnya kerja di Surabaya, yang kini akan mengadu nasib di Lombok untuk berniaga bersama kerabatnya di sana.

Setelah kapal mulai menjauh, dan sinyal seluler mulai sulit, saya memutuskan untuk mandi dan tidur karena badan ini sudah tidak nyaman. Keringat dari Semarang mula harus dihempaskan. Badan menjadi bersih dan segar kembali. Ini menambah rasa nyaman ketika beristirahat setelah seharian berkendara.

Senin, 1 September 2025

Hari ini saya bangun kesiangan. Pukul setengah enam pagi saya baru beranjak. Rasa lelah yang kemarin saya rasakan cukup terbayar dengan tidur hari ini. Di geladak paling atas, orang-orang sudah berkumpul menyaksikan matahari terbit dari timur. Cuaca pagi ini cerah, hampir tidak berawan. Gelombang cukup tenang sehingga kapal lumayan stabil pergerakannya. Di arah depan kapal, sebelah timur, mentari mulai muncul ke permukaan, tepat di atas cakrawala. Bentuknya bulat sempurna dengan warna jingga merona. Di sebelah kanan arah datangnya kapal, sebelah selatan, kami disajikan dengan sederet pegunungan di wilayah Jawa Timur. Beberapa gunung yang terlihat di antaranya adalah Argopuro, Ijen, Raung, dan Baluran. Cukup lama kami para penumpang berada di atas untuk mengabadikan momen. Ini terlalu berharga untuk dilewatkan.

Pukul 07.30 WIB, saya kembali ke tempat semula. Petugas pembagi makanan sudah sedia. Para penumpang menunggunya dengan antusias. Nasi dengan ayam goreng dan urab menjadi menu pertama kami di kapal ini. Waktu tiba makanan cukup tepat, mengingat semalaman kami menahan lapar. Untuk rasa, tidak perlu komplen berlebihan, ini sangat layak untuk dimakan.

Setelah makan, saya lanjut istirahat dengan sesekali mengobrol. Rasa penasaran membuat saya ingin berkeliling kapal megah ini. Ternyata fasilitasnya cukup lengkap. Untuk yang butuh privasi dan ketenangan lebih, bisa mengambil ruang VIP. Letaknya paling depan kapal. Sayangnya, ruangan ini tidak kedap suara sehingga jika sedang ada pertunjukan musik, suaranya sangat terdengar.

Di belakangnya ada kelas ekonomi duduk yang cocok untuk pelancong yang ingin berhemat dan sanggup menahan 22 jam dengan duduk saja. Walaupun duduk, kursi di sini bisa diselonjorkan untuk kenyamanan maksimal saat tubuh butuh istirahat.

Tersedia juga kafetaria yang lengkap dengan segala kebutuhan kita. Jelas, harganya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan warung tetangga kamu. Tersedia WiFi di ruang ekonomi duduk dan kafetaria, sayangnya tidak sampai ke ekonomi tidur kekuatan sinyalnya. Jika di wilayah lautan yang jauh dari daratan, koneksi juga nihil seperti sinyal seluler ponsel.

Untuk kaum mendang-mending bisa memilih kelas ekonomi tidur. Risikonya harus mau berbaur dengan orang lain. Termasuk tidur bersampingan dengan orang yang tidak dikenal. Di sini tidak dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Kalau kamu menonton vlog saya dan ada Bapak yang tidur di bangku, dia sedang mengalah agar wanita yang ada di sampingnya sudi untuk tidur di tempatnya. Wanita itu awalnya enggan tiduran karena bersampingan dengan Bapak itu. Namun Bapak itu mengalah. Salut saya untuk beliau.

Terdapat beberapa ruangan untuk kelas ekonomi tidur. Ada yang dua tingkat, ada juga yang tiga. Penumpang tidak mendapatkan bantal maupun selimut. Di setiap ranjang, terdapat port USB untuk mengisi daya gawai penumpang. Selain port USB, berarti harus mengisi daya di charger station yang tersedia di dekat kafetaria dan belakang ruang ekonomi duduk. Bisa menonton vlog saya untuk lebih jelasnya.

Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan di dalam kapal. Hanya tiduran dan mengobrol. Saat kapal melintasi perairan dan terdapat sinyal. Saya berkomunikasi dengan keluarga untuk sekadar memberikan informasi lokasi terkini saya.

Kapten kapal akan berkomunikasi dengan penumpang melalui pengeras suara yang tersedia. Waktu salat, informasi barang hilang, momen saat melewati pemandangan menawan, serta momen matahari terbit dan terbenam selalu disampaikan.

Menjelang sore hari, banyak penumpang yang menuju ke geladak atas kapal. Kapten kapal telah menyampaikan bahwa beberapa saat lagi para penumpang bisa menyaksikan matahari terbenam dari arah barat, yaitu dari belakang kapal.

Saya berdiam di geladak atas untuk menyaksikan momen langka itu. Sejak pukul 15.00 hingga 17.00, gelombang laut terasa lebih besar dibandingkan rute sebelumnya. Ini menandakan bahwa kami sebentar lagi akan memasuki perairan Lombok, yang terkenal dengan ombaknya yang cukup tinggi.

Saat yang dinantikan pun tiba. Matahari hampir tenggelam di ufuk barat, warna jingga di langit menjadi penanda bahwa waktu magrib akan segera datang. Seperti biasa, audio azan diputarkan ketika waktu salat tiba. Mendengar lantunan azan magrib di atas kapal, sambil menyaksikan lautan lepas, gunung-gunung, dan matahari yang perlahan tenggelam, membuat bulu kuduk merinding. Ini adalah momen magis yang hanya bisa dirasakan selama pelayaran ini.

Ketika malam menjelang, sebagian penumpang kembali ke tempatnya masing-masing. Beberapa orang memilih untuk merebahkan badan di tempat tidur, termasuk saya. Dengan cara itu, goyangan kapal bisa lebih diantisipasi, dan rasa pusing pun tidak terlalu terasa.

Menjelang tiba di Pelabuhan Lembar, kapten mengumumkan bahwa kapal akan tiba tepat waktu dan gelombang relatif aman. Saya dan teman-teman mulai mengemasi barang-barang kami karena sebentar lagi kapal akan bersandar. Saya dan Fadil akan menuju penginapan yang sama, sementara Jali pergi ke tempat lain bersama temannya. Aji sudah ditunggu oleh keluarganya di Lombok. Sayangnya, saya tidak sempat berpamitan dengannya karena waktu keluar kami berbeda.

Pemilik kendaraan besar dipersilakan keluar terlebih dahulu, disusul oleh pejalan kaki. Terakhir, pengguna kendaraan pribadi dan sepeda motor dipersilakan keluar. Proses ini cukup memakan waktu, jadi kami harus sabar menunggu giliran. Setelah kapten memberi izin bagi kendaraan pribadi untuk keluar, kami bergegas ke bawah—tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki di Pulau Lombok.

Saya membawa tas-tas saya menuju motor yang berada di geladak paling bawah. Saat tiba di motor, saya langsung menyalakan mesin dan memanaskannya beberapa saat, mengingat motor ini tidak dinyalakan selama 24 jam.

Akhirnya, kami keluar dari kapal dan berhasil menginjakkan kaki di tanah Lombok. Sesampainya di Pelabuhan Lembar, suasananya terasa sepi. Lampu pelabuhan tidak terlalu banyak, membuat suasana terasa tenang. Kami lalu bergegas menuju jalan utama, yaitu Jalan Nasional, dan bergerak ke utara menuju Kota Mataram.

Kami sepakat untuk mencari makan malam terlebih dahulu sebelum menuju penginapan, khawatir jika sudah sampai nanti kami terlalu lelah untuk keluar lagi. Setelah melewati Bundaran Gerung, hujan tiba-tiba turun. Kami sempat berteduh di sebuah ruko kosong di pinggir jalan dan menunggu sekitar lima menit. Namun karena hujan tak kunjung reda, kami akhirnya mengenakan jas hujan dan memastikan semua peralatan terlindungi dari air.

Sesampainya di Kota Mataram, hujan sudah berhenti. Jalanan tampak kering seolah tak pernah diguyur hujan. Setelah check-in di penginapan yang sudah saya pesan, kami segera membereskan barang dan membersihkan badan.

Karena tubuh terasa lelah dan lapar, kami keluar mencari makan. Setelah sempat berkeliling, kami akhirnya memutuskan untuk makan nasi goreng di pinggir jalan. Menariknya, banyak pedagang di sekitar sini ternyata berasal dari Jawa Timur, termasuk penjual yang kami temui malam itu.

Badan terasa sangat lelah dan mata mulai mengantuk. Besok kami akan melanjutkan perjalanan menuju Mandalika dan Sembalun. Malam ini, waktu istirahat kami terasa begitu berharga. Sampai jumpa di perjalanan esok hari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *