Minggu, 31 Agustus 2025
Bermalam di Semarang menjadi momen istirahat yang sangat penting. Perjalanan ini masih jauh. Nanti malam saya akan berlayar dari Surabaya ke Lombok. Tiket kapal sudah saya pesan tadi malam melalui website resmi Dharma Lautan Utama.
Kemarin sore, saya merasa sangat lelah, sehingga tidak memungkinkan untuk menambah aktivitas di Semarang selain istirahat.
Di Episode 1, saya sempat berusaha mencari baterai kamera di Semarang. Ada satu penjual yang mengaku memiliki baterai tersebut. Dia mengatakan ke saya sebelumnya jika tokonya tutup pukul 5 sore, dan meminta saya agar mengonfirmasi apakah saya akan ke toko atau bertemu di tempat lain pada malam harinya. Setelah saya sampai di penginapan di Semarang, saya baru mengonfirmasi bahwa saya tidak bisa mengejar waktu buka tokonya. Saya menawarkan untuk bertemu besok pagi. Ia menyanggupinya pada pukul 10 pagi, namun dengan pesan tambahan, “Besok saya kabari lagi.”
Di Minggu pagi, saya sudah menanyakan kesesediaannya, tetapi belum ada respons. Sambil menunggu, saya akan sarapan nasi pecel, rekomendasi teman saya yang bekerja di Semarang, Mas Sidna. Kami makan di Nasi Pecel Bu Siti di Jalan Soekarno-Hatta, Pedurungan. Begitu kami sampai lokasi, begitu banyak warga yang sarapan di tempat tersebut. Itu membuat saya semakin antusias mencicipi rasa otentik pecel Semarang.
Nasi pecel di pagi hari begitu nikmat, terlebih kondisi gigi saya sudah semakin baik dalam mengunyah. Senang rasanya bisa menikmati makanan lagi. Sekitar 30 menit kami sarapan dan berbincang sebelum kami berpamitan. Mas Sidna menuju kantornya karena ada pekerjaan tambahan, sedangkan saya menujut lokasi bayar-di-tempat dengan penjual baterai kamera.
Saya tiba tepat waktu, pukul 10 sudah di lokasi, di Superindo Tlogosari. Saya pun mengirimkan pesan kembali, ingin memastikan. Pesan dan telepon urung direspons. Saya memberi toleransi 30 menit, jika tak kunjung ada jawaban, saya akan batalkan transaksi.
Benar saja, sampai tenggat yang saya tentukan, penjual tak kunjung merespons. Saya langsung bergegas mengendarai motor saya menuju Surabaya. Pukul 10.30 terlalu siang untuk perjalanan sejauh ini. Bisa jadi saat saya sampai Surabaya, langit di sana sudah gelap. Sebetulnya, saya juga sempat mencari barang tersebut di Surabaya melalui internet. Ada dua toko yang menyediakan baterai, tetapi sial bagi saya, mereka tutup di hari Minggu.
Awalnya, saya belum yakin apakah akan menuju Surabaya dan mencari baterai tersebut di toko perlengkapan elektronik yang tersedia, atau ke Bangkalan dan mencicipi cita rasa Bebek Sinjay. Akhirnya, opsi kedua adalah keputusan yang saya ambil.
Dari Semarang saya mengarah ke Mranggen di Demak. Jalan yang saya lalui sedang diperbaiki, sehingga di beberapa tiitk sangat berdebu. Ketika memasuki Grobogan, tepatnya di Kecamatan Godong, indikator BBM saya sudah mulai berkedip. Sudah 200 km lebih sejak saya terakhir kali mengisi BBM, tepatnya di Brebes. Saya pun mengisi kembali pertamax. Penuh.
Tidak lama setelah keluar SPBU, saya tertarik dengan plang Api Abadi Mrapen, sehingga saya mampir sejenak ke tempat tersebut. Lokasi ini cukup terkenal dan tidak asing di telinga saya. Dengan tiket Rp2.500, saya bisa menyaksikan api yang katanya abadi. Saya berekspektasi akan melihat kobaran api, tetapi apinya tidak terlihat menyala sama sekali. Hanya semburan gas yang jika diletakkan daun kering di atasnya baru memiliki daya bakar. Saya tidak tahu kalau malam hari di sini bagaimana.
Saat hendak melanjutkan perjalanan, azan zuhur berkumandang. Saya menambah waktu henti di tempat ini. Saat mengecek ponsel, saya membaca pesan dari penjual baterai di Semarang. Dia meminta maaf karena tidak bisa melakukan transaksi, karena orang yang bawa kunci tokonya baru datang. Saya menolak marah. Itu di luar kendali saya.
Saya melanjutkan perjalanan setelah sekitar 30 menit saya rehat di Api Abadi Mrapen. Jalan dari Grobogan menuju Blora sangat memusingkan, sehingga di rute inilah saya menggunakan Maps sampai tujuan. Terlalu banyak persimpangannya. Jalan yang saya lalui juga tidak terlalu lebar. Wajar, ini bukan jalur nasional.
Begitu memasuki Blora, saya terkesima dengan gaya arsitektur rumah penduduk di sana. Banyak sekali rumah masih menggunakan gaya tradisional Jawa, mungkin tipe rumah joglo. Seragam sekali desainnya. Jarang saya menemui yang seperti ini. Ada pun di Gunungkidul, tapi saya rasa tidak sebanyak ini.
Jembatan panjang saya lalui, di bawahnya terdapat sungai besar, ialah Bengawan Solo. Ini artinya saya sudah memasuki Jawa Timur. Tidak jauh dari perbatasan, saya bertemu dengan lampu merah di Ngraho untuk berbelok ke arah utara, atau ke kiri dari arah datangnya saya. Ini adalah jalan nasional penghubung Ngawi dan Bojonegoro, terlihat dari garis kuning yang membujur di jalan. Dari sini, kendaraan mulai ramai, tidak seperti sebelumnya.
Dari sini jalan semakin mudah. Saya tinggal lurus ke arah utara, dan begitu sampai di perempatan Padangan belok ke kanan ke arah timur menuju Bojonegoro Kota. Jalanan di sini lebih lebar, sesekali terdapat bus AKDP dan AKAP dengan kecepatan tinggi. Di sebelah kanan terlihat perlintasan kereta api.
Saya teringat bahwa saya belum makan siang, tetapi saya belum terlalu bernafsu juga untuk makan berat. Sepertinya es legen atau es tebu bisa menambah kadar gula dalam tubuh saya. Saya pun berhenti selama 30 menit di salah satu penjual es tebu. Sesekali kereta melintas di seberang jalan. Saking nikmatnya, saya memesan dua gelas es tebu yang satu gelasnya seharga Rp3.500 saja. Sambil beristirahat, saya mengobrol dengan penjualnya.
Pukul 15.30 saya melanjutkan perjalanan, dengan harapan masih bisa melihat matahari terbenam saat melintasi Suramadu. Bojonegoro sudah saya lewati, untuk kemudian memasuki Kabupaten Lamongan. Di sini saya sangat ingin melihat Stadion Surajaya yang baru saja direnovasi oleh pemerintah pusat. Ternyata, dari pinggir jalan pun stadion itu begitu menawan dan terlihat sangat modern. Saya mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan.

BBM saya hampir habis lagi, sehingga harus diisi pertamax lagi Rp50.000 di Lamongan. Matahari sudah hampir terbenam di arah barat. Saya menyadari bahwa saya tidak akan mengejar momen sunset di Suramadu karena waktu di sini lebih cepat daripada di Bogor.
Azan magrib berkumandang saat saya memasuki Kota Surabaya. Saat melewati Suramadu pun langit sudah begitu gelap. Angin terasa cukup kencang sehingga sesekali menggerakkan roda motor saya.
Setelah menapakkan kaki di Pulau Madura, saya mengarahkan motor belok kiri setelah lampu merah pertama. Sampai akhirnya saya sampai di Bebek Sinjay sebelum pukul 7 malam. Rumah makan ini begitu besar, lengkap dengan masjid dan toiletnya yang sangat ideal.
Dengan badan penuh keringat, saya bergegas masuk ke dalam menuju kasir untuk memesan sepiring bebek. Sungguh berbeda sekali rasanya. Sambal mangga di sini lebih masam, bebek sangat empuk, marinasinya terasa, ada tambahan jeroan dan daun kemangi. Saya lahap sekali memakannya karena terakhir makan berat itu di Semarang tadi pagi.

Ini seharusnya cukup untuk mengganjal perut saya sampai besok mendapatkan makan di kapal menuju Lombok, yang akan saya naiki nanti malam.
Bersambung.

