Terhadang Macet Panjang Menuju Semarang (Lombok #2)

Memasuki Kota Cirebon, tubuh ini terasa panas saat berhenti di lampu merah. Jika sedang melaju, sepanas apapun tidak masalah karena tubuh ini ditiup angin semilir jalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12, tetapi saya belum memutuskan untuk makan apa dan di mana. Sempat terlintas untuk mencoba Nasi Jamblang Ibad Otoy yang direkomendasikan teman saya beberapa tahun lalu saat saya makan di Nasi Jamblang Ibu Nur. Tetapi, otak saya masih enggan untuk tangan mengendurkan tarikan gas.

Sisa BBM masih lumayan, belum terlalu kering sepertinya. Masih cukup untuk beberapa puluh kilometer lagi. Suasana jalanan Cirebon siang ini tidak terlalu ramai. Truk-truk besar melaju dengan kecepatan cukup kencang, membuat saya harus semakin hati-hati saat menyalip kendaraan besar itu.

Momen yang jarang saya lewatkan adalah saat melewati monumen perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ini momen saya meninggalkan provinsi saya, Jawa Barat. Setelah ini, masih banyak kilometer yang harus dilewati. Masih banyak petualangan di provinsi lain. Ah, saya akan menantikan saat-saat kembali ke Jawa Barat nanti, dengan selamat tentunya. Sekarang fokus ke depan. Lombok menjadi tujuan, tapi bukan tujuan akhir.

Patung Diponegoro menunggangi kudanya menyambut saya di batas provinsi ini. Saat ini saya sudah memasuki Kabupaten Brebes. Ingin sesekali mengeksplorasi jalur selatan Brebes dan tembus Cilacap dengan jalurnya yang eksotis.

Sedikit mundur ke belakang, beberapa tahun yang lalu saya sempat bingung perihal Losari. Di Cirebon dan Brebes ada tulisan wilayah itu. Membuat saya berpikir ini wilayah masuk mana. Ternyata saya diinfokan teman SMA, saat kami mengobrol, dia mengatakan bahwa ada dua Kecamatan Losari, satu di Cirebon, satu di Brebes. Saya percaya, karena dia sudah lama tinggal di sana.

Sambil melintas, saya jadi teringat, dulu dia pernah menawarkan mampir di tempatnya kalau saya lewat lagi. Tetapi belum saatnya.

Begitu mendekati Brebes Kota, tepatnya di Bangsri, saya memelankan laju kendaraan saya, terlihat sebuah plang SPBU warna merah. Indikator BBM saya hanya tersisa satu. Ini sudah menunjukkan waktu zuhur, dan saya belum makan siang. Akhirnya saya memutuskan untuk rehat sejenak.

Sepengamatan saya, saat ini SPBU merah memasang pengumuman bahwa toiletnya gratis, tetapi banyak saya menemui seorang penjaga duduk di dekat pintu masuk dengan kotak khasnya. Begitu pula di SPBU ini.

Saya membasuh air dari keran ke beberapa bagian tubuh. Rasanya begitu melegakan dan menyegarkan setelah berkendara di jalan pantura yang terik ini.

Saya kemudian duduk di samping musala, suasana sangat panas di sini. Saya melihat gerobak cilok yang berlokasi agak jauh dari tempat saya duduk. Sepertinya enak, tapi saya malas berjalan ke sana dengan mengenakan sepatu lagi. Saya masih ingin selonjoran.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, datang seorang bapak dengan sepeda menjual tahu Sumedang. Membuat saya ingin segera melahap tahunya. Saya pesan lima ribu saja. Mungkin cukup mengganjal sampai nanti saya makan yang betulan. Ternyata lima ribu ini mendapatkan lontong juga cukup panjang. Ah, lumayan juga ini karbohidrat tambahan.

Setelah 45 menit istirahat, cukup rasanya raga ini rehat. Saatnya melanjutkan perjalanan. Saya berniat untuk melalui jalur lingkar utara. Belum pernah lewat sini sebelumnya, karena selalu lewat alun-alun pada setiap kesempatan.

Saya awalnya berniat istirahat sekaligus mengisi BBM di SPBU tadi. Ternyata Pertamax di sana kosong. Saya enggan mengantre lama, sehingga berharap di jalan selanjutnya ada SPBU lagi. Di jalur pantura saya tidak khawatir masalah SPBU.

Begitu belok kiri dari lampu merah menuju jalan lingkar, saya melihat jajaran warung makan di pinggir jalan. “Yah, padahal tadi makan di sini saja,” ujar saya dalam hati. Namun, saya enggan untuk berhenti lagi setelah tidak lama berhenti. Ini akan mengubah jadwal sampai saya. Lagipula gigi saya masih belum nyaman mengunyah. Seenak apapun makanan, tidak akan bagus selera saya.

Jalan lingkar utara ini saya kira ada empat lajur, ternyata hanya dua. Tapi tidak terlalu ramai, sesekali masih bisa menyalip kendaraan panjang, walaupun harus perhitungannya harus pas. Jika tidak, bisa meluncur ke sawah. Jalan ini saya rasa cukup memangkas waktu jika dibandingkan melalui kota yang mengharuskan saya menghadapi lampu merah yang cukup banyak.

Syukurnya, di sebelah kanan saya lihat ada Pertashop. Kios kecil dari Pertamina yang hanya menjual Pertamax. Di situ saya mengisi BBM saya kembali setelah sebelumnya saya mengisi di Cipatat. Lumayan jauh juga ya. Kapasitas tangki motor saya sekira 5,5 liter. Jika konsumsi rerata per liter di atas 50 kilometer, maka sekali isi bisa sampai 200 kilometer saya tempuh pada jalan yang landai dan lurus.

Tidak jauh setelah keluar dari jalan lingkar utara, saya memasuki Kabupaten Tegal. Dari Tegal sampai Pemalang, perjalanan begitu membosankan. Jalanan lurus saja dengan pemandangan sawah sesekali di kanan dan kiri jalan.

Saat jalan pantura ini mulai mendaki, saya antusias karena menemukan jalan dengan variasi. Tidak yang lurus dan landai. Ini sudah sampai Kabupaten Batang. Di jalan saya membaca tulisan “Truk Silakan Masuk Tol, karena Ada Festival di…”

Saya tidak selesai membacanya karena laju saya tidak cukup pelan. Khawatir kendaraan di belakang saya terganggu jika saya menurunkan kecepatan secara drastis. Dalam benak saya, akan ada hambatan di ruas yang akan saya lewati, tapi karena hanya truk yang disarankan masuk tol, saya masih optimistis motor masih bisa selap-selip.

Setelah masuk ke Kecamatan Subah, terlihat kendaraan di depan saya serentak berhenti. Antrean panjang kendaraan mengular begitu memasuki Kecamatan Banyuputih. Saya belum tahu apakah ini akibat festival atau bukan. Kendaraan roda empat tidak mampu bergerak. Saya menyelinap di antara jarak yang ada antarkendaraan. Sesekali mengambil lajur kiri, sesekali ke tengah, sesekali ke kanan.

Saya semakin tercengang saat jalur ke arah barat ternyata ditutup. Akibatnya, jalur menuju timur dibagi menjadi dua. Satu lajur untuk kendaraan ke arah timur, satu lajur lagi diberikan untuk kendaraan ke arah barat. Semakin parah macetnya. Setelah agak ke timur, saya mendengar suara musik dengan komponen bass yang sangat keras, seperti sound horeg. Ternyata ini festival yang dimaksud. Banyak warga tumpah ruah di jalan. Menonton pertunjukan ini. Ramai sekali. Banyak di antara mereka yang memarkirkan kendaraan besarnya dan menonton dari atas kendaraan mereka. Anak kecil sampai orang tua berjajar. Berbagai macam pertunjukan seni mereka tunjukan. Drum band, tari tradisional, peragaan busana, sampai sound yang besar dan menggelegar disajikan. Hampir setengah jam saya terjebak di kemacetan ini.

Lewatlah saya di Alas Roban, jalur yang terkenal angker itu. Sepengetahuan saya, ada tiga opsi melalui wilayah ini. Saya telah mencoba jalur lama dengan vegetasi pohon yang tinggi, dan jalan yang berliku. Itulah jalur yang terkenal horor. Tapi, saya sudah pernah, saya mencoba lurus saja. Ternyata jalurnya biasa saja, cepat sampai.

Selepas Alas Roban, tiba kita di perbatasan Batang-Kendal, dengan pemandangan khas Jembatan Kali Kuto di sebelah kanannya. Setelah Kendal, kita masuk ke Semarang. Waktu menunjukkan sekitar pukul 4 sore. Perjalanan masih sesuai rencana. Menuju perbatasan Kendal-Semarang, langit mulai gelap, gerimis mulai menerpa.

Saya masih menahan untuk berhenti dan berharap hujan segera reda di depan, karena langit di depan terlihat cerah. Semarang sepertinya cerah. Tak disangka, hujan semakin deras, saya memutuskan akan berhenti, tetapi di sebelah kiri saya tidak ada bangunan yang layak dipakai berteduh, sehingga saya memaksa melaju lagi.

Begitu masuk perbatasan Semarang, hujan mereda, aspal agak kering. Untunglah, saya tidak perlu berhenti. Pakaian saya juga tidak terlalu basah, masih layak pakai.

Sore di Kota Semarang sangat syahdu. Jalan yang rapih, trotoar yang bersih, dengan pertokokan di sepanjang jalan. Ingin rasanya berlama-lama di kota ini, tidak hanya singgah seperti sekarang.

Tidak lama, saya sampai di Gayamsari, menginap di tempat yang saya inapi dua tahun lalu saat perjalanan ke Bali. Di sini tarifnya murah, hanya 80 ribu rupiah per malam. Tapi kamarnya bersih, walaupun kamar mandi di luar kamar ini tidak masalah. Di sekitarnya juga terdapat banyak penjual makanan dan tersedia toserba swalayan.

Begitu sampai, tidak ada petugas yang menyambut saya. Remaja yang duduk di depan resepsionis itu bukanlah petugas. Saya bertanya kepadanya, di mana petugas penginapan ini. Dia menjawab sedang di penginapan lain di sebelah, tapi dia tidak membawa ponselnya sehingga saya harus menyusul ke sana. Setelah saya jemput, akhirnya saya bisa check-in, membawa barang bawaan saya ke lantai dua.

Sebelum merapikan barang, saya mandi terlebih dahulu karena badan ini begitu lengket. Malamnya, saya mencari makanan yang mudah saya konsumsi, yang tidak perlu kunyahan kuat sebelum menelannya. Saya melihat Maps sambil survei mau makan di mana.

Menjelang isya, saya berjalan kaki sekitar 100 meter ke utara untuk makan soto ayam. Tentu nasinya dicampur ke kuah. Ini memudahkan saya untuk menelannya. Ah, tersiksa sekali kondisi seperti ini.

Besok adalah perjalanan yang panjang. Saya juga sudah membuat janji dengan orang.

Bagaimana kisah selanjutnya?

Ikuti terus perjalanan saya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *