Ini adalah perjalanan terjauh yang saya tempuh menggunakan sepeda motor. Dengan waktu yang hanya seminggu, perencanaan perjalanan kali ini harus matang dan masuk akal.
Saya terbangun pukul 2 dini hari. Berharap satu jam setelahnya saya bisa berangkat dari Bogor sehingga tidak terlalu sore saat sampai di Semarang. Sebelum berangkat, saya menjajal baterai kamera saya yang sudah diisi dayanya sejak semalam. Ternyata belum semua baterai terisi penuh. Saya coba isi daya baterai dengan waktu tambahan. Ketiga baterai utama mengindikasikan daya terisi penuh 100%, tetapi ada satu baterai yang sedikit menggelembung, sehingga saat saya cabut dari kamera, baterai tersebut sulit dilepaskan. Karena dipaksa, pita dari baterai tersebut putus. Saya harus mencari cara agar baterai itu bisa dikeluarkan. Segala perkakas yang saya miliki saya gunakan untuk mengatasinya. Setelah belasan percobaan, akhirnya baterai itu bisa dikeluarkan.
Perjalanan jauh ini tidak mungkin hanya menggunakan dua baterai utama saja. Tiga baterai cadangan lain tidak bisa saya andalkan karena dayanya yang sudah tidak tahan lama. Saya berpikir harus mencari baterai baru untuk melengkapi tiga baterai utama saya.
Marketplace Facebook saya kunjungi untuk mencari baterai yang bisa langsung dibeli di Semarang. Ada satu akun yang menjualnya. Langsung saya hubungi. Saya agak terkejut karena dia masih membalas pesan saya pada dinihari itu. Dia mengatakan bahwa bisa transaksi di hari Sabtu sampai pukul 5 sore. Saya pesimistis karena khawatir saya tiba di Semarang lebih dari itu. Saya akhirnya menunda keputusan terkait hal tersebut. “Ah, nanti saya diputuskan lagi setibanya di Semarang,” ujar saya dalam hati.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul setengah 4 dinihari. Artinya, jika saya berangkat sekarang, sejam kemudian saya harus berhenti lagi. Tanggung rasanya. Saya merebahkan badan sebentar, sembari merelaksasi otak yang sedari tadi berpikir keras. Lain kali, manajemen baterai harus lebih dimatangkan sebelum perjalanan jauh.
Jam dinding menunjukkan pukul 4.45. Saya memastikan semua perlengkapan sudah dikemas dan siap saya bawa di motor. Di bagasi, saya menyimpan alat mandi, sandal, colokan listrik, beberapa aksesoris pelengkap kamera. Di tas motor, saya simpan empat setel pakaian, sarung, dan handuk. Masker dan cairan pembersih saya simpan di dasbor motor sebelah kiri. Tas selempang saya isi baterai kamera, power bank, charger, dan salonpas. Dompet saya simpan di sebelah kanan saku jaket, ponsel di sebelah kiri.
Bismillah…
Perjalanan dimulai.
Oh iya, jika biasanya saya mengarah ke Pantura lewat Cikarang, kali ini saya mengambil rute yang berbeda. Agar tidak bosan.
Dari Kota Bogor saya arahkan motor ini ke Selatan. Melewati Tajur yang kalau siang hari sering macet karena sedang ada perbaikan jembatan. Kendaraan lalu lalang dari kedua arah. Di Puncak, kendaraan mulai padat, karena banyak wisatawan yang sengaja berangkat pagi demi menghindari macet. Menjelang pukul 5.30, langit tak kunjung cerah. Awan gelap menutupi dataran tinggi Puncak. Saya sempat khawatir akan turun hujan, tetapi semakin mengarah ke selatan, saya bisa melihat awan cerah di sisi tenggara.
Begitu sampai Cianjur Kota, awan kian menipis. Cahaya mentari dari arah timur semakin terlihat, sesekali menyilaukan mata, menandakan perjalanan ini tidak akan ditemani hujan. Saya terus melaju ke arah timur, menuju jembatan Rajamandala, perbatasan Cianjur dan Bandung Barat. Saya bosan sekali melalui ruas ini, rasanya tidak berujung. Saya sambil sesekali menguap melewati jalan ini.
Setelah memasuki Bandung Barat, di Cipatat saya mengisi BBM. Sebelumnya memang BBM saya belum penuh. Kalau penuh, bisa sampai Cibiru setidaknya. Selain mengisi BBM, saya juga membeli air mineral untuk disimpan pada dasbor sebelah kanan. Saya ingin memastikan bahwa di perjalanan ini, saya tidak boleh kekurangan cairan.
Tidak sampai 5 menit istirahat, saya melanjutkan perjalanan menuju Jatinangor, sebuah kecamatan di selatan Sumedang yang berbatasan dengan Cileunyi di Kabupaten Bandung. Kecamatan penuh kenangan, karena di sana saya menghabiskan 4 tahun dari umur saya.
Tiga setengah jam sejak berangkat dari Bogor, saya rehat sejenak untuk sarapan. Bubur Ayam Parantina menjadi tujuannya. Bubur ini memiliki sambal yang berbeda. Selain itu, tersedia keripik bayam sebagai komponen pendampingnya.

Sialnya, rahang saya sempat bermasalah saat memaksa menggigit bagian keripik yang keras sekali. Saya tidak bisa menempelkan gigi geraham atas dan bawah saya yang bagian kanan. Perasaan takut tidak bisa mengunyah lagi sempat muncul dalam benak.
Setengah jam berlalu, saya melanjutkan perjalanan menuju Sumedang. Jalur ini membuat saya bernostalgia. Dulu jalan ke Tanjungsari ramai sekali sebelum adanya Tol Cisumdawu. Di beberapa titik saya melihat pemandangan baru, yaitu adanya exit tol. Tibalah saya di jalan yang ikonik di jalur ini, Cadas Pangeran. Bagian jalan yang seperti setengah menggantung membuat jalur ini unik. Saya sempat berhenti untuk mengambil foto di sini.
Saat melewati Alun-alun Sumedang, saya kagum dengan ketertiban dan kebersihannya. Tidak banyak terlihat ada kendaraan yang parkir sembarangan dan pedagang yang memasang tenda dagangannya. Setelah melewati Sumedang Kota, jalur mulai berkelok menuju Paseh. Tapi pemandangan begitu menawan. Saya bisa melihat sisi Sumedang bagian utara dari ketinggian. Di beberapa titik terlihat sungai yang membelah area perkebunan warga, membuat pemandangan semakin menawan.
Begitu masuk Tomo, saya terkesima dengan adanya tempat makan di pinggir Sungai Cimanuk yang syahdu itu. Ingin saya berhenti sejenak dan menikmati suasananya, tapi saya khawatir sampai Semarang larut malam.
Tomo ini berbatasan dengan Kadipaten di Majalengka. Dari Kadipaten saya memilih lurus hingga Palimanan. Tidak ada yang spesial di jalur ini. Saya teringat melewati Jatiwangi yang menjadi salah satu sentra penghasil genteng terbesar di Indonesia.
Di jalur ini saya mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan. Dua kali saya hampir menabrak orang yang menyeberang tiba-tiba tanpa melihat ke belakang. Sekali terkaget karena truk yang begitu masuk jalan raya dari kiri langsung ambil kanan untuk putar balik. Saya juga melihat ada orang terjatuh dari motor dan ada anak kecil yang dibawanya. Di luar prediksi.
Setibanya di Plered, Cirebon, saya penasaran kenapa banyak kendaraan roda epat diputarbalikkan polisi. Ternyata sedang ada aksi unjuk rasa. Di pekan ini memang banyak unjuk rasa di seluruh Indonesia. Bahkan beberapa orang terdekat saya menyuruh saya hati-hati dalam perjalanan karena sedang banyak aksi unjuk rasa.
Apakah saya bertemu dengan kejadian unjuk rasa di perjalanan selanjutnya?
Ikuti terus perjalanan saya.


ijin saran kang, kalo bisa di tambahkan detail kit buat dokumentasinya misal action cam pake apa, ketahanan baterainya, kualitasnya, link affiliate pembelian mungkin, soalnya saya cari action cam di https://collshp.com/riantoid ga ada