Jalan Nasional yang lebar mulai menyepi, salip-menyalip antarkendaraan sudah mulai berkurang. Matahari tampak semakin mencurahkan warna jingga khasnya, di sebelah utara terlihat Gunung Slamet yang sangat gagah. Pematang sawah membentang di sepanjang jalan, kiri dan kanan.
Tiga jam berkendara dari Dieng ternyata cukup melelahkan. Helm full-face yang saya pakai membuat saya sulit untuk minum tanpa membuka helmnya. Dahaga ini sudah harus saya akhiri.
Di ruas jalan Banyumas, tepatnya di Jatilawang, banyak terdapat penjual dawet ayu dengan gerobak hijaunya yang khas. Mereka semua berjajar di kiri dan kanan. Saya kira ada sebanyak 20 kios di jalan itu. Ah, orang yang terlalu banyak pertimbangan ini dihadapkan dengan 20 kios dengan tampilan yang sama, dan harus memilih satu.
“Baik, seperti biasa, saya akan lewati semua kios itu dari awal sampai ujung sambil melihat-lihat,” gumam saya.
Setelah melihat semua, akhirnya saya tetapkan tiga poin pertimbangan. Pertama, di kios itu sedang tidak ada pembeli lain. Selain lebih nyaman karena sendiri, ini demi pemerataan. Kedua, pilih yang sebelah kanan, karena bisa melihat langsung sawah dan Gunung Slamet dari kejauhan. Ketiga, lihat bangkunya, walaupun dari kayu atau bambu, pastikan ergonomis dan nyaman untuk selonjoran.
Kemudian saya putar balik dan langsung menuju satu kios yang sudah diincar berdasarkan tiga pertimbangan tadi. Setelah saya menurunkan standar motor, sang penjual dawet ayu, ibu-ibu paruh baya, keluar dari ruangan kecilnya, mengira saya akan membeli.
“Bu, dawet setunggal,” saya memesan.
Tidak sampai satu menit, dawetnya sudah ada di hadapan saya yang sedang duduk. Saya foto dulu dengan beberapa sudut kamera. Sebelum minum, saya aduk dulu dawet ayunya agar santan dan gula merah cairnya menyatu, airnya kini menjadi cokelat. Sungguh segar sekali dawet itu, cocok untuk tubuh saya yang sedang panas. Sampai saya memanggil penjualnya kembali.
“Bu, setunggal malih,” saya ingin menambah.
Gelas kedua juga tidak saya biarkan terlalu lama, karena memang begitu segar, melunasi dahaga saya. Kerongkongan pun tidak kering lagi. 15 menit lamanya saya berdiam di gubuk itu, rasanya ingin lebih lama, namun saya ingin sampai rumah sebelum matahari tenggelam.
Ah, kerongkongan ini memaksa saya menambah satu gelas lagi. Gelas ketiga tetap sama nikmatnya. Kali ini saya berjanji tidak akan menambah lagi. Setelah menuntaskan tiga gelas, saya langsung menghampiri ibu penjual, entah siapa namanya, saya tidak berkenalan. Saya bercakap dengan bahasa jawa kromo seadanya.
“Bu, berapa?”
“Lima belas ribu, Mas,” jawabnya.
Saya pun segera merogoh dompet untuk membayarnya dengan tunai, saya amati tidak ada poster QRIS.
“Maaf ya, Mas. Sekarang semuanya serba mahal,” seketika si ibu berucap.
Entah, setelah kata itu terucap, saya sedikit terenyuh sekaligus heran. Mengapa dia harus meminta maaf. Sedangkan saya tidak menunjukkan protes terhadap harga yang ditetapkan, baik verbal maupun nonverbal. Saya tahu, pasaran dawet di jalan itu harganya biasanya Rp3.000, mungkin itu yang membuat ibu itu meminta maaf. Tetapi saya tidak masalah jika pun harganya sedikit dinaikkan. Saya tahu betul dawet seperti itu di tempat lain bahkan seharga Rp7.000.
Di perjalanan pulang, melawan arah matahari yang sudah berwarna jingga pekat, saya masih terenyuh saja. Memang zaman sedang serba sulit. Panjang umur untuk semua pejuang nafkah.

