Qalqalah

Saat masih seusia siswa sekolah dasar, saya beberapa kali berpindah-pindah tempat mengaji. Salah satu tempat di mana saya pernah mengaji adalah di rumah Bi Nyai. Tempatnya bukan di pesantren, kelas, maupun musala, tetapi hanya di rumah pribadinya.Belasan anak selalu meramaikan kediamannya menjelang matahari terbenam.

Kegiatan selalu diawali dengan salat berjamaah kemudian mengaji iqra, Al-Quran, maupun kitab, bergantung tingkatan tiap-tiap anak. Terkadang yang lebih tua mengajari yang lebih muda.

Ada satu momen saat kami hendak melakukan salat isya berjamaah di rumah Bi Nyai. Tidak semuanya berbarengan saat itu. Saya diminta untuk belajar jadi imam di depan 3 anak lainnya. Sementara kami berempat berjamaah, tetua lainnya masih ada yang mengaji atau bahkan ngawuruk. Jadi, salat kami menjadi perhatian. Saya lupa apakah itu pertama kalinya saya merasakan posisi imam atau bukan.

Setelah kami mengaminkan doa Al-Fatihah, di rakaat kedua, saya memilih surat Al-Ikhlas.

“Qulhuwallahu ahad…”

Tetiba saya mendengar Bi Nyai menimpali.

“Awas qalqalah… Iya bagus.”

Dalam hati, saya berujar, kenapa dia tidak membiarkan saja saya menyelesaikan bacaan, bukankah kami harus khusyuk. Ini justru seperti pertandingan sepak bola dengan komentator.

Ah, terkadang peristiwa kecil seperti itu justru selalu teringat. Saya sangat berterima kasih kepada guru-guru dan teman saya yang pernah mengajak dalam kebaikan. Dulu, melakukan kebaikan dibalut kegembiraan ternyata tidak melelahkan. Masa itu, kami bahkan harus berjalan kaki 1 kilometer untuk mencapai tempat kami mengaji. Pulang malam, melewati sawah yang gelap.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *