Rambut yang sudah mulai menutupi mata adalah tanda bahwa saya harus segera memotong rambut. Sepulang kerja, di sore yang tidak terlalu mendung, saya menuju tempat pangkas rambut yang baru tiga kali saya datangi. Selain hasilnya lumayan, tempatnya juga bersebelahan dengan tempat pencucian motor. Jadi, sambil menunggu motor selesai dicuci, saya bisa sambil mengurus rambut.
Tempat pangkas rambutnya tidak ramai, biasa saja, tapi yang membuat saya terkesan adalah, pemangkasnya melakukan pekerjaannya dengan telaten, tidak terburu-buru, dan tarif yang dikenakan tidak terlalu mahal.
Seperti biasa, setelah membuka pintu pangkas rambut, saya disambut oleh lelaki berambut gondrong. Saya kemudian duduk dan menjelaskan model potongan seperti apa yang saya inginkan. Pemangkas ini memang tidak terlalu suka untuk basa-basi, dan saya bisa menyesuaikan karena tidak ingin melunturkan konsentrasinya.
Menjelang tiga menit merapikan rambut saya, dia mulai membuka percakapan.
“Mas, kerja di Marzoeki ya?” ucapnya sambil penasaran.
“Iya, kok tahu?” jawab saya terkaget karena merasa tidak sedang mengenakan seragam atau tanda pengenal lainnya.
“Kemarin saya lihat di TikTok,” ujarnya sambil setengah tertawa.
Kami pun saling menertawakan lelucon ini.
“Pantesan pas saya lihat kok kaya pernah lihat, tapi di mana ya, saya kurang ingat. Pas barusan masuk, saya baru ingat,” tambahnya lagi.
Saya baru ingat, ternyata potongan video siniar yang menayangkan obrolan saya dengan salah seorang dokter spesialis penyakit dalam di tempat kerja saya berhasil menjangkau 200 ribu penonton di platform itu.
Dari kejadian ini, saya sinau dan merenungkan tentang ketenaran. Saya sama sekali tidak merasa tenar atau sebagainya, tetapi merasa lucu saja bisa mencicipi rasanya dikenal oleh orang lain karena media sosial.
Saya teringat pada pernyataan seorang pemain sepak bola dengan gaji tertinggi di dunia, Kylian Mbappe, yang mengatakan bahwa dia menderita karena tidak merasakan kebebasan saat hendak pergi ke tempat umum. Jelas, karena ke manapun dia pergi, akan banyak media bahkan fans yang akan mengerubunginya.
Bersyukurlah saya, dan mungkin kita, yang hidup dengan lingkungan seadanya, kita masih bisa bebas bergerak ke tempat manapun yang ingin kita kunjungi tanpa ada rasa takut atau khawatir berlebihan. Banyak orang yang ingin dirinya dikenal banyak orang, saya kira tidak salah juga. Namun, bersyukur menjadi pribadi yang tidak terkenal ternyata asyik juga.
(Ditulis sambil menunggu paha ayam agak turunan, soalnya gak boleh langsung rebahan)

