Melepas Masker

Pagi itu saya sedang berada di ruang tunggu pasien di salah satu rumah sakit di Banyumas. Saya sedang menunggu giliran untuk melakukan tes kejiwaan sebagai salah satu syarat menjadi pegawai di tempat yang saya lamar.

Saat itu ruangan sudah dipenuhi pasien dan keluarganya yang hendak berobat jalan. Kebanyakan memang orang-orang yang sudah berusia senja. Saya dapat melihat rona asa kesembuhan pada wajah mereka.

Saya ingat, itu bulan November tahun 2020. Saat itu Covid-19 masih menjadi alasan orang-orang diwajibkan memakai masker.  Di ruang tunggu itu tidak ada satupun yang tidak menggunakan masker. Hanya beberapa yang memakai masker medis, kebanyakan memakai masker kain.

Dari kejauhan saya melihat seorang lelaki tua, sepertinya sedang mengantar berobat seseorang. Kakek itu memakai kaus warna kelabu, sedang berdiri, membiarkan kursi satu-satunya yang tersisa untuk diduduki wanita yang saya duga adalah istrinya. Sesaat, dia membuka maskernya, dengan sengaja, untuk bersin. Kejadian itu menarik perhatian saya.

Covid-19 dikabarkan dapat menular lewat droplet seseorang, misalnya ketika dia bersin. Itu kenapa kita diwajibkan memakai masker, untuk meminimalisasi penyebaran droplet yang dapat menyebabkan penularan virus.

Setelah melihat kakek itu bersin, saya berujar dalam hati, “Apa-apan!”

Jelas, saya menganggap kakek itu salah karena apa yang dilakukan seperti tidak tahu protokol kesehatan. Akal sehat saya saat itu bertanya-tanya, untuk apa masker dia pakai, kalau dia sengaja membukanya saat bersin. 

Tiga tahun berlalu. Pandemi tampaknya sebentar lagi berakhir. Saat ini saya sudah lebih melonggarkan penggunaan masker, karena merasa pengap jika menggunakan kain itu. Bahkan ketika sedang memakai masker dan harus bersin, saya akan lekas membuka masker saya, kemudian bersin dengan menggunakan tisu atau bagian dalam sikut. Alasannya, ketika bersin dalam lindungan masker, saya merasa tidak nyaman dengan bagian dalam masker yang menjadi basah. Mau tidak mau harus maskernya harus saya ganti. Apa yang saya lakukan, saya akui adalah hal yang keliru, bukan untuk dijadikan contoh.

Setiap melakukan hal itu, saya teringat kepada si kakek di rumah sakit. Dari kakek itu saya sinau, ketika kita menghakimi seseorang salah, mungkin karena kita belum sepenuhnya memahami apa yang dia lakukan. Kita tidak mengalami itu. Cara terbaik memahami sesuatu adalah dengan mengalaminya sendiri.

Ini bukan berarti membenarkan orang untuk bertindak salah, tapi agar lebih hati-hati dalam melakukan judge terhadap orang yang kita anggap salah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *