Bukan Indonesia Pusaka

Di SMA saya, petugas upacara hari senin diatur bergiliran dari kelas ke kelas. Pekan itu, kelas 12 IPA 2 giliran menjadi petugas upacara bendera hari Senin. Saya sebagai ketua kelas waktu itu langsung berkoordinasi dengan teman sekelas tentang siapa menjadi apa. Petugas upacara sudah siap dan bersedia di posisinya masing-masing. Semua yang mumpuni menyanggupi.

Sebagai ketua kelas yang ambisius pada saat itu, saya tentu ingin orang-orang terbaik yang menempati pos petugas upacara. Saya ingin the dream team 12 IPA 2.

Biasanya, di tengah upacara kami menyanyikan lagu wajib nasional. Yang membosankan, hampir setiap senin, lagu yang dinyanyikan adalah Indonesia Pusaka. Saya merasa kelas kami harus sedikit berbeda. Jangan lagu itu terus. Saya berdiskusi dengan dirigen untuk membawakan lagu wajib yang lain saja. Ini keinginan pribadi saya. Jujur saja. Terkadang saya ingin berbeda.

Tibalah saat pelaksanaan upacara. Ketika waktunya menyanyikan lagu wajib, sang dirigen maju ke depan para peserta upacara untuk mengomandoi semua peserta bernyanyi.

Sayang sekali… banyak yang tidak hapal utuh lagu itu. Lagu Tanah Air ciptaan Ibu Sud. Pengalaman itu tidak mengenakkan bagi sang dirigen. Dia menjadi komando, tapi yang dikomando tidak hapal seluruh liriknya. Itu di depan hampir seribu orang.

Selepas upacara, sang dirigen menghampiri saya sembari menangis. Dia merasa malu dan kecewa. Dia kecewa kepada saya kenapa memilih lagu itu. Ternyata memang saya over-estimate kepada teman-teman di sekolah.

(Ditulis saat menunggu penyerahan piala AFF U-16 2022. Indonesia menang 1-0 atas Vietnam. Seluruh pemain, ofisial, dan seisi stadion bernyanyi Tanah Air dengan khidmat.)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *