Di tahun 2015, saya mencoba naik gunung untuk pertama kali bersama teman-teman paguyuban Ciamis di Unpad. Dari Gunung Manglayang, hampir seluruh Bandung Kota dan sekitarnya bisa terlihat. Salah satu titik terbaik melihat Bandung ada di situ.
Setelah pulang ke asrama, saya merasa lelah yang luar biasa. Mungkin karena salah memakai alas kaki, kuku jempol kaki kanan saya sampai lepas. Setelah itu, saya sempat bergumam dan berjanji dalam hati tidak akan pernah naik gunung lagi. Karena capek. Beneran.
Tujuh tahun berlalu, hasil dipameri teman dan naravlog di media sosial, dan ditambah rasa penasaran, saya kembali naik gunung. Kali ini Gunung Gede.
Semenjak saya datang ke Bogor untuk mencari sesuap nasi, setiap hari, pulang dan pergi, selalu melihat Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak. Dalam hati saya selalu berujar, masa tinggal di Bogor tapi tidak bisa naik gunung itu.
Semua itu merusak memori lelahnya naik Gunung Manglayang. Belum setengah perjalanan naik Gunung Gede, saya sudah berikrar lagi, tidak lagi-lagi naik gunung. Lelahnya luar biasa. Asli.
Ternyata yang membuat saya kembali naik gunung itu ialah rasa lupa. Lupa itu bisa menjadi kekurangan seseorang, atau bisa membuat seseorang teledor. Namun, saya menyadari juga bahwa lupa itu bisa menjadi anugerah.
Seorang ibu mungkin tidak mau melahirkan lagi jika tidak diberikan rasa lupa saat melahitkan. Seorang pekerja mungkin malas bekerja kembali jika tidak melupakan sakit hatinya diremehkan atasan. Seseorang mungkin enggan untuk jatuh cinta lagi jika tidak lupa sakitnya dikecewakan.
Jadi, pernahkan kita bersyukur telah diberikan rasa lupa?


