Persembahan

Panitia Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS sudah mengingatkan kami, angkatan 4, untuk mempersiapkan sebuah persembahan yang akan ditampilkan pada momen penutupan latsar. Saya ingat betul nama saya disebut berkali-kali oleh Pak Lurah (ketua angkatan) untuk berkontribusi dalam produksi persembahan itu.

Latsar memang dilaksanakan secara daring, sehingga tugas maupun persembahan harus bisa ditampilkan dalam layar monitor. Saya sudah ada perasaan, kalau saya terlibat, pasti ini akan menambah beban dan tugas saya. Sementara saya juga punya kepentingan memberikan presentasi dan laporan yang baik terkait program aktualisasi saya.

Saya memang sengaja diam, berpura-pura tidak peduli terhadap apa yang akan dipersembahkan oleh angkatan di momen penutupan nanti. Yang membuat saya malas adalah, ketika akan menentukan persembahan apa yang akan diberikan. Sebanyak 40 ide dan keinginan dari kepala yang berbeda disatukan dalam satu atau dua karya. Terkadang justru kita mengambil waktu untuk berdiskusi akan membuat apa daripada proses membuat apa. Akhirnya telah terpilih satu orang untuk menjadi penanggung jawab (PJ) persembahan. Tentu bukan saya.

Di grup angkatan, ada pendataan siapa yang akan masuk tim editing, tim ide, dan tim apalagi saya lupa. Saya sengaja tidak mau mengisikan nama saya pada daftar tersebut.

Sayangnya, pagi itu, setelah senam daring rutin, lagi-lagi Pak Lurah menyebut nama saya untuk berkontribusi membuat persembahan. Entah ada bisikan dari siapa, mungkin wakilnya juga. Enggak enak juga kalau ada orang yang percaya tapi kitanya abai. Akhirnya saya memberanikan diri masuk ke tim editing. Setidaknya, saya hanya mengerjakan konsep yang sudah jadi. Selanjutnya saya hanya menunggu instruksi apa yang harus dikerjakan.

PJ persembahan suddenly japri saya, “ada ide enggak buat persembahan?”

Saya sadar, saya bukan tim konsep, jadi pasif saja dalam menyampaikan ide. Tapi ketika ditanya seperti itu, saya bilang saja ide saya apa untuk persembahan. Ternyata PJ persembahan meneruskan ide saya di grup. Belum ada ya atau tidak terhadap ide tersebut. Tetapi ketika mendekati hari penutupan, saya diinstruksikan merealisasikan video tersebut.

Ya sudah, saya harus bertanggung jawab terhadap ide itu. Saya sampaikan apa yang harus dilakukan oleh angkatan, saya juga sangat dibantu Wakil Lurah dalam proses pembuatannya. H-2 sebelum penutupan, saat itu malam hari setelah apel, saya sampaikan semua orang harus kirimkan video mereka sebelum pukul 12.00 siang. Serentak mereka menampakkan muka masam pada layar monitor. Wajar mereka enggan, karena hari itu adalah hari seminar ketika mereka harus presentasi dan menyelesaikan laporan. Tetapi ada satu orang, Sang Jenderal yang membuat video setelah apel malam itu, dan membuat semua termotivasi. Jenderal itu sangat empati terhadap saya yang berkata, “Saya juga mau tidur.” Salut kepada Jenderal!

Esoknya setelah selesai seminar, saya mulai mengulik apa yang harus dikerjakan, mem-breakdown ­semua langkah. Pada akhirnya saya mulai bekerja pada pukul 9 malam, karena baru terkumpul lengkap di waktu itu. Saya lihat video mereka satu persatu. Luar biasa, total sekali mereka. Saya jadi semangat untuk tidak tidur.

Memang ada beberapa orang yang mengirimkan video yang tidak sesuai ketentuan bersama. Ada yang mengirim dengan format potrait, video tidak full, tempo tidak pas, kalau suara yang fals tidak menjadi masalah besar karena langsung bisa dimatikan suaranya. Hehe.

Saya baru selesai merender videonya sekitar pukul 10 pagi di hari Jumat. Saya hanya kirim ke Lurah, wakilnya, dan PJ persembahan. Biarkan menjadi kejutan untuk orang lain saat momen penutupan nanti. Beberapa orang yang tergabung di tim persembahan meminta video tersebut sebelum ditayangkan, tetapi kami berempat tidak berikan.

Penutupan saat itu terasa lama, sambutan dari pejabat rasanya teramat membosankan, khususnya untuk saya yang belum tidur sama sekali. Akhirnya, momen itupun tiba, momen yang ditunggu saya dan teman di grup angkatan yang sudah penasaran terhadap karya kami.

“Persembahan dari perwakilan angkatan 4,” ucap pembawa acara.

Inilah momen puncak kebersamaan kita, angkatan 4. Ketika video diputar, saya bolak-balik dari mode galeri dan ke mode speaker. Saya ingin melihat ekspresi teman-teman, tetapi juga ingin menonton videonya, walaupun sudah menonton berkali-kali, tapi rasanya beda saat itu. Saya sempat memergoki beberapa teman yang menangis. Saya juga terharu sebetulnya. Merinding juga.

Setelah selesai acara penutupan itu, kami mendapatkan begitu banyak apresiasi. Saya katakan, ini adalah karya angkatan, saya hanya mengonsep dan menyatukan saja video mereka. Apa yang saya syukuri adalah, mereka semua sudi berpose dan bertindak seperti itu dalam video, padahal mereka orang-orang hebat. Angkatan 4 juga mendapatkan apresiasi dari pihak panitia, bahkan dari pimpinan yang tertinggi. Katanya, kami terasa berbeda. Syukurlah.

Bagi saya, ini pencapaian baru karena pernah membuat karya seperti itu. Sebelumnya belum pernah. Sampai seminggu setelah penutupan latsar, saya sudah puluhan kali memutar video ini.

Meskipun jalan kita tak bertemu

Tapi selalu indah bagiku

Semoga juga bagimu.

(Ditulis saat merasakan rindu kebersamaan daring bersama peserta Latsar CPNS Kemenkes 2021 di BBPK Ciloto)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *